Cari

Abdul Hamid

Abdul Hamid
veteran dari kroya

Ponaryo

Ponaryo
tukang becak

Anak Jalanan

Anak Jalanan
Pengiba Rupiah

Wanti

Wanti
tukang jamu gendong

Flo : Mencari Keramahan

Minggu, 27 Desember 2009

“to go with life flow, good agreement with life”
- Florence Thiriez, Animal lover, Medan -


Ketika pertama kali datang ke Kantor Fauna & Flora International, Medan, perempuan yang punya nickname ‘tete-rouge’ atau si “Rambut Merah” ini dengan percaya diri menyatakan, “I can teach the guys in the forest, besides a doctor, I’m also an English teacher,” dengan bahasa Inggris berdialek Perancis. Itulah Florence Thiriez. Seorang dokter asal Perancis yang mengabdikan dirinya untuk kegitan-kegitan peduli lingkungan, terutama perlindungan fauna.
“Kenapa Anda tertarik untuk bergabung dalam kegiatan konservasi di sini, Flo?” Flo adalah panggilan sehari-harinya.
“Karena saya sangat suka dengan alam yang asri, saya menyukai hutan dan kampung-kampung yang tenang. Makanya saya memilih tinggal di Tangkahan atau Bukitlawang yang dekat dengan hutan Leuser, jika berkunjung. Saya berharap bisa menyumbangkan ilmu saya tentang pengobatan herbal untuk kasus darurat bagi teman-teman yang bekerja di hutan, misal digigit ular, perawatan hewan (animal care), dan animal communication yang baru saja saya pelajari tahun lalu. Dan di Indonesia adalah tempat yang tepat buat saya. Karena di sini banyak teman-teman seide dan sejalan yang peduli dengan pelestarian lingkungan, khususnya hewan.” Jawab Flo ramah.
“Boleh tahu, apa profesi Anda di negara Anda sendiri?” tanyaku tentang latar belakang profesinya di Paris, Perancis.
“Saya adalah dokter spesialis kandungan di sebuah rumah sakit di Paris. Tapi sebelumnya, lebih 20 tahun saya bekerja sebagai dokter ahli natural medicine.”
“Kenapa Anda tidak konsentrasi saja pada profesi kedokteran modern? Kenapa mau-maunya Anda mengurusi hewan di sini?” aku penasaran.
“Di Paris ini bukan hal yang aneh. Seorang dokter memang dituntut memiliki beberapa kemampuan spesial lainnya, sub-specialist, agar memiliki ilmu yang komprehensif tentang kesehatan.”
“Lalu Anda memilih mengurusi hewan, bukan manusia?” tanyaku makin dalam.
“Oh tidak. Saat inipun saya tetap menangani manusia. Namun saya lebih cenderung menangani penyakit yang diderita manusia dengan pengobatan alami. Sebisa mungkin mengurangi konsumsi obat-obatan kimia. Karena sudah jelas, kimia itu memberikan efek negatif bagi tubuh kita.” Wajar ia menjawab seperti ini, karena memang ia juga seorang dokter ahli natural medicine.
“Bagaimana cara anda melakukan terapi natural terhadap pasien?”
“Bisa dengan tanah liat, buah, sayuran, urine, bisa juga dengan puasa. Nah di kalangan teman-teman di sini, saya sedang mengajarkan penanganan emergency terhadap gigitan ular. Karena teman-teman adalah orang yang lebih sering aktif di hutan daripada di kota.” Jawabnya diiringi senyumnya yang ramah.
“Penyakit apa saja yang bisa anda tangani?” pertanyaan spontan.
“Penyakit apapun, saya berusaha membantu mengobatinya. Hanya satu penyakit yang saya tak bisa menanganinya.”
“Wah, penyakit apa itu?” tanyaku penasaran
Prejudice! Hahaha….” ia menjawab sambil tertawa. Akupun tertular tawa, begitupun dengan teman-teman lain yang ada di ruangan ini.
“Lalu apa obat buat prejudice itu?” tanyaku
“Hahaha, kan saya tidak menangani itu” masih sambil tertawa kecil, “Tetapi, mungkin dengan terapi spiritual, penyakit itu bisa disembuhkan…” Flo terlahir sebagai Khatolik. Tapi saat ini ia sedang tertarik untuk menerapkan filosofi Budha. Islam belum mengena di hatinya, karena melihat beberapa golongan muslim yang agresif. Ia kurang menyukai agresifitas dalam beragama.
“Selama anda di sini, berarti pekerjaan anda di Paris anda tinggalkan lalu bagaimana dengan pihak Rumah Sakit?” aku baru ingat kalau dia pernah menyatakan, praktik di sebuah Rumah Sakit di Paris.
“Saya tak selamanya di sini. Karena hanya cuti kerja selama satu tahun.” Jelasnya.
“Setahun? Lalu bagaimana Anda membiayai hidup selama di sini?” ini yang sejak awal aku pikirkan, dari mana ia mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di Indonesia. Karena yang aku tahu, ia tidak menerima gaji dari Fauna & Flora International - Sumatran Elephant Conservation Programme (FFI-SECP), atau siapapun yang dibantunya.
“Saya punya cukup tabungan untuk keliling dunia kalau lagi cuti. Ini hal yang umum dilakukan oleh orang-orang di Eropa.” Jawabnya santai.
“Bagaimana dengan anak-anak yang anda tinggalkan?” Kutanyakan demikian karena ia pernah bilang punya anak, namun suaminya sudah meninggal 4 tahun yang lalu.
“Anak-anakku sudah dewasa dan mandiri. Jadi saya tak harus mengkhawatirkannya.” Ia selalu tersenyum jika berbicara.
“Atau mungkin justru ia yang mengkhawatirkan Anda di negeri orang…hehehe..” candaku.
“Ah, tidak. Dia paham kalau mamanya seorang pemberani, hehehe…” balasnya.
“Apa prinsip hidup anda, dan apa yang anda cari dalam hidup ini?” sebuah pertanyaan terakhir yang kusampaikan, karena menyadari sudah waktunya ia kembali ke penginapannya.
“Hm… mengalir saja… to go with life flow, good agreement with life… dan yang saya cari adalah keramahan….saat ini dan kedepan, saya akan fokus ke masalah spiritual, itu mimpi saya” jawabnya tersenyum. Setelah itu ia beranjak dari duduknya, kembali ke penginapannya di Bukit Lawang. Seekor monyet berekor panjang mengikutinya, seperti teman seperjalanan.
Itulah Florence Thiriez. Ia mengabdikan ilmunya untuk membantu para relawan yang bertemu dengannya dalam perjalanan keliling dunia, saat ini di Thailand dan Indonesia, khususnya Medan. Tidak ada yang dia cari selain keramahan. Karena keramahan hanya bisa tercipta oleh mereka yang berpikiran jernih, bebas dari prasangka buruk, dan mau berbagi dengan sesama makhluk Tuhan. [MT]

0 komentar:

Poskan Komentar

 

2009 ·guru kehidupan by TNB