Cari

Abdul Hamid

Abdul Hamid
veteran dari kroya

Ponaryo

Ponaryo
tukang becak

Anak Jalanan

Anak Jalanan
Pengiba Rupiah

Wanti

Wanti
tukang jamu gendong

Mudrik : Orang Gila

Minggu, 27 Desember 2009

“Sudah! Diam saja, biarkan saja mereka ngomong! Jangan didengarkan!”
- Mudrik, Orang Gila, Ciparay-Anyer -


Keduanya duduk di bale depan warung nasi Suka Rasa di Ciparay, Anyer. Yang lelaki bertopi haji. Rambutnya panjang melewati bahu. Banyak tanah dan debu yang melekat di beberapa helai rambut itu. Tangannya asyik melinting rokok. Namanya pak Mudrik. Orang-orang di sekitar warung yang kutanya bilang, “Orang gila!”
Ia didampingi seorang perempuan. Rambutnya gimbal. Tanah dan kotoran berupa serpihan daun menjadi perekat dan penghias rambut kusam dan awut-awutan. Tatkala ia tersenyum, aku sempat melihat giginya yang hitam-hitam. Orang-orang yang kutanya bilang, “Itu istrinya, gila juga!”
Pak Mudrik mendapat predikat gila dari masyarakat setelah diketahui gagal bunuh diri. Mulanya ia kecewa kepada orang tuanya karena tak juga membelikannya sepeda motor. Saat itu ia sudah menikah dengan istrinya yang pertama. Kekecewaan itu ditambah dengan tekanan batin atas sikap istri dan keluarganya, pak Mudrik lantas nekad gantung diri. Tapi Allah tak berkenan atas kematiannya. Ia hanya mengerang merasakan sakit pada lehernya yang terjerat. Sejak itulah ia dianggap gila.
Pak Mudrik sering jalan kaki sepanjang jalan. Dari Anyer sampai Padarincang, kira-kira 30 kilometer lebih, merupakan jalurnya. Beberapa kali ia hidup bersama dengan perempuan yang juga gila. Dengan perempuan Jawa, ia pernah mempunyai anak. Lahirnya di sebuah kios Pasar Cinangka. Perempuan Jawa itu meninggal karena tabrak lari. Beruntung ada orang Jakarta yang mengambil anak tersebut dan mengadopsinya. Sedangkan pak Mudrik, kembali pada dunianya sendiri. Bertemu perempuan gila lagi, kawin lagi, ganti lagi, hingga beberapa bulan ini selalu bersama dengan perempuan Sunda berbaju hijau.
“Ngomongin saya, ya?!” istrinya menghampiriku, marah dalam bahasa sunda. Aku heran, ia mengetahui isi perbincanganku dengan orang-orang di warung nasi ini.
“Memangnya saya tidak tahu kalau kamu ngomongin saya!” Bentaknya! Masih dalam bahasa sunda yang tak aku mengerti. Aku baru paham setelah diberitahu artinya oleh pemilik warung yang rutin memberi Mudrik makanan.
“Sudah! Diam saja, biarkan saja mereka ngomong! Jangan didengarkan!” Sang Suami, yang bernama Mudrik itu memanggil istrinya agar tidak lagi memarahi kami. Juga dalam bahasa Sunda. Sang istripun menurut dan mereka berdua kembali duduk di depan warung nasi, memandang ke arah pantai.
Aku bergegas dari warung nasi, melanjutkan perjalanan. Sebelum memasuki mobil, aku menghampirinya sebentar, menganggukkan kepalaku di depannya, bermaksud mohon maaf atas ketersinggungannya.
Begitulah, kehidupan pak Mudrik, orang gila yang kutemui di Ciparay. Mengapa aku mengangkat topik orang gila? Karena biasanya kita memang tak pernah mau mencoba peduli dengan mereka yang kita anggap gila. Kita terlalu menjaga jarak dengan mereka yang gila. Salah satu yang membuat orang menjadi gila adalah karena kurangnya perhatian. Jika kitapun tak sudi memberi perhatian saat mereka gila. Maka merekapun makin merasa kesepian di tengah kehidupan yang amat ramai.
Kitapun pasti berpikir agar sebaiknya orang-orang gila itu direhabilitasi di Rumah Sakit Jiwa. Pemerintah mestinya memberikan perhatian buat mereka. Bukannya membiarkan mereka berkeliaran di jalan. Ada yang bilang, RS Jiwa sudah tak muat lagi buat orang gila. Makanya mereka dibiarkan punah secara alamiah. Tragis sekali jika anggapan tersebut sebuah kebenaran. Kita tak pernah mengetahui berapa anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk orang-orang seperti Mudrik. Adakah?
Pak Mudrik memang gila. Tapi selama gila, dia tak pernah mengganggu orang lain yang waras. Justru yang sering terjadi sebaliknya, orang-orang waras yang mengusir apabila Mudrik duduk istirahat di pinggir jalan atau di depan rumahnya.
Kita sering tidak peduli terhadap orang lain, apalagi jika orang lain itu kita anggap gila. Jangankan untuk membiarkannya diam di depan rumah kita, untuk memberi sepiring makanan saja, sepertinya kita merasa jijik. Padahal, bisa jadi Tuhan mengirim orang gila di depan rumah kita, untuk menguji sebesar apa hati kita untuk tidak menganggapnya kecil dibanding kita, untuk menguji apakah kita masih merasa paling mulia dibanding manusia lain. [MT]

0 komentar:

Poskan Komentar

 

2009 ·guru kehidupan by TNB