Cari

Abdul Hamid

Abdul Hamid
veteran dari kroya

Ponaryo

Ponaryo
tukang becak

Anak Jalanan

Anak Jalanan
Pengiba Rupiah

Wanti

Wanti
tukang jamu gendong

Wiwi : Penyedia Recehan

Jumat, 30 Juli 2010

“Semuanya untung kok. Saya untung, pengemis untung, tamu juga untung bisa sedekah.”

- Wiwi, Penyedia Recehan, Banten Lama -


Awalnya aku heran melihat anak perempuan yang berdiri di belakang meja sederhana itu. Di mejanya terjejer uang logam dari seratus hingga limaratus rupiah. Bukan hanya satu, tapi banyak juga meja-meja recehan yang berjejer di gang menuju Masjid Agung Banten Lama ini.
Ternyata uang itu disediakan untuk pengunjung yang mau menukar uangnya dengan recehan untuk dibagi-bagikan kepada puluhan, atau mungkin ratusan pengemis di kawasan wisata Banten Lama ini.
Sudah menjadi tradisi, kalau setiap pengunjung Masjid Raya Banten Lama memberikan sedekah kepada para pengemis. Namun saking banyaknya pengemis, pengunjung harus memecahkan uang lima ribuan atau sepuluh ribuan dengan recehan.
“Kalau saya tukar lima ribu, saya dapat berapa perak?” tanyaku kepada Wiwi, salah seorang dari para penukar uang itu.
“Kalau sama yang lain bisa dapat 4000, kalau sama saya 4500 juga boleh.” Ternyata ketat juga persaingan bisnis penukaran recehan ini.
“Setiap hari banyak yang menukar uang?”
“Kalau hari biasa sih sedikit. Tapi kalau lagi liburan, apalagi bulan maulud, bulan puasa, habis lebaran, biasanya kita panen.” Panen artinya banyak orang yang menukar recehan pada hari-hari yang ia sebutkan.
“Kalau sedang ramai, sehari bisa dapat selisih berapa?”
“Keuntungannya saja? Lumayan, bisa 20-30 ribu!”
“Besar juga ya untungnya usaha seperti ini.” Pujiku
“Semuanya untung kok. Saya untung, pengemis untung, tamu juga untung bisa sedekah.” Sebuah alasan yang masuk akal juga menurutku.
“Lalu cari recehannya kemana lagi?”
“Ya, ke pengemis, lah!” jawabnya ringan.
“Oo… Jadi nanti para pengemis itu menukarkan uangnya lagi ke sini?”
“Nggak semua, tergantung kita mau bayarin berapa. Paling cuma nambahin stock saja.” Jawabnya menjelaskan.
“Kalau mereka menukarkan recehan seribuan, kamu bayar berapa?” tanyaku ingin tahu.
“Tetap seribu. Kan kita dagangnya bukan sama mereka.” Jelasnya.
Ternyata perputaran uang recehan hanya di sekitar situ saja. Mereka sediakan, ditukar oleh pengunjung, disedekahkan buat para pengemis, dan mereka kembali menukarkan beberapa puluh ribu untuk modal “money changer” esok hari.
Setiap bisnis memiliki jaringan khasnya sendiri. Seperti di jaringan para pelaku bisnis recehan ini. Mereka sudah memiliki jaringan yang kuat dengan para sesama penyedia recehan, pengemis, dan juga para penukar uang. Masing-masing mempertahankan agar jaringannya bisa berjalan normal.
Inilah bisnis yang saling menguntungkan antara pelaku jasa penukaran recehan, pengemis, dan para pengunjung. Satu sama lain saling membutuhkan, atau kalau kata Wiwi, saling menguntungkan. Sebuah bisnis sederhana yang tak pernah kita bayangkan manfaatnya. Terlepas dari negative thinking yang selalu menguasai pikiran kita.
Wiwi adalah salah satu sosok anak Indonesia yang survive dalam menjalani hidupnya. Kemiskinan tak menghambatnya menjadi anak yang hanyut dalam keputus-asaan.

Jika Anda mau membuka usaha, ikutilah mereka. Maksud saya, petakan dahulu alur bisnis yang sangat menentukan stabilitas dan kontinuitas bisnis Anda. Jangan hanya berpikir menyediakan barang dagangan. Tapi pikirkan pula pemetaan pasar dan kemudahan kembali untuk mengadakan stock barang. [MT]

0 komentar:

Poskan Komentar

 

2009 ·guru kehidupan by TNB