Cari

Abdul Hamid

Abdul Hamid
veteran dari kroya

Ponaryo

Ponaryo
tukang becak

Anak Jalanan

Anak Jalanan
Pengiba Rupiah

Wanti

Wanti
tukang jamu gendong
Tampilkan postingan dengan label guru kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label guru kehidupan. Tampilkan semua postingan

Bermain Sambil Bekerja

Senin, 09 Agustus 2010


Cari sampah sekalian main, pak. Nggak terasa, dapat duit.
– Ujang, Pemulung, Cinangka –


Biasanya aku melihat bocah ini sedang bermain di sekitar lingkungan rumahku di Anyer. Tapi kali ini mereka berdua agak berbeda. Aku penasaran dengan karung yang digendongnya. Apa isinya?
“Cari apa kamu?” aku bertanya kepada Ujang, salah satu dari bocah itu karena aku tahu, bocah yang satunya lagi bisu (tuna wicara).
“Sampah, pak.” Jawabnya
“Sampah apa saja? Lalu dijual kemana?”
“Plastik atau kardus, pak. Dijual di lapak, pak”
“Lapak limbahnya dimana?”
“Dekat pak, baru seminggu, pak. Makanya kita sekarang cari sampah biar dapat duit, pak.”
“Tapi kalian tetap sekolah, kan?” tanyaku.
“Tetap, pak. Kita tetap sekolah, tapi pulang sekolah, cari sampah.” Jawabnya.
“Jadi nggak sempat main dong.”
“Kan, cari sampah sekalian main, pak. Nggak terasa, dapat duit.” Jawaban yang tak kuduga.
“Baguslah kalau begitu. Semoga dapat banyak deh kalian!” doaku untuk mereka.
Sambil main, merekapun mencari uang. Ini patut kita contoh. Seorang anak kecil saja bisa bermain sambil bekerja. Asal jangan terbalik menerapkannya, bekerja sambil bermain. Seperti yang pernah aku lihat di beberapa kantor. Ada beberapa pegawai yang sibuk menyelesaikan solitaire di komputer kantornya, saat jam kerja masih berlangsung.
Ada saja peluang usaha yang bisa kita dapatkan asal kita mau melakukan. Ya, intinya adalah mau melakukan. Tidak semua anak Indonesia mau menjadi pemulung sampah dari rumah ke rumah. Tapi bagi kedua bocah itu, yang penting mereka bisa mendapatkan uang dari hasil kerja keras mereka. Mudah sekali bagi Tuhan dalam memberikan jalan bagi hambanya untuk mendapatkan rezeki. Tinggal kita sendiri, mau atau tidak menjalaninya. 

Plastic Boy


Kata bibi, kalau sudah mati, di akhirat nanti, pengemis itu mukanya rata!

– Udi, Pengecer Plastik, Cibodas –

Dari tadi anak kecil itu mengikutiku terus. Tak pernah berhenti menawarkan, "plastik, plastik…!" kadang dia memelas, "tolong pak, beli plastik saya pak… tolong pak, satu aja pak!" kadang dia mengelap ingus dengan lengan kanannya, srooot… Tapi dia lebih banyak senyumnya ketika aku tatap. Itulah si Udi. Kenalanku waktu liburan ke Cibodas kemarin.
Udi, begitu dia jawab ketika kutanya namanya. Setiap hari menjadi pengecer kantong plastik atau temannya se-karier menyebutnya jinjingan. Jadilah aku ngobrol dengan Udi, saat jalan-jalan di parkiran KRC (Kebun Raya Cibodas). Menunggu teman-teman yang sibuk berbelanja.
"Satu jinjingan kamu jual berapa?"
"Seribu, pak, murah pak!" dia pikir aku mau membeli jinjingannya
"Kamu jualan setiap hari di sini?"
"Iya pak, kan setiap hari kita harus makan." cerdas juga jawabannya.
"Sehari bisa dapat duit berapa?"
"Kalo lumayan sih, bisa sampe 30 rebu" sambil mengelap ingus dengan lengannya.
Memang lumayan sih, berarti ada 30 plastik yang dibeli orang, pikirku. Kalau pengunjung ramai, maka para penjual juga ramai. Begitu juga dengan plastic boys, seperti Udi dan teman-temannya. Mereka sangat berharap agar tempat wisata ini ramai terus. Menurut info yang aku dapat di loket, dalam sebulan, pengunjung KRC bisa mencapai sejuta orang.
"Hari ini sudah dapat berapa, Di?" tanyaku lagi
"Baru 4 rebu, pak. Makanya Bapak beli dong!"
"Saya nggak belanja apa-apa. Kamu sekolah, Di?"
"Sekolah pak, kelas 5, eh, sekarang mah kelas 6."
"Orang tua kamu kerja?"
"Udah meninggal, pak!"
"Kamu tinggal sama siapa sekarang?"
"Bibi, yang tadi bapak minta air panas buat bikin kopi, itu bibi saya!"
"Ooo… saya senang sekali bisa ngopi, karena dapat air panas dari bibimu.”
“Saya senang melihat kamu seperti ini. Tidak mengamen atau mengemis di jalanan.”
“Wah, kalo ngamen saya malu, pak. Nggak bisa nyanyi. Kalo ngemis, takut.”
“Koq takut? Takut sama siapa?”
“Kata bibi, kalau sudah mati, di akhirat nanti, pengemis itu mukanya rata!” kata Udi mengulang nasihat bibinya.
“Bibi bilang begitu?” Entah sahih atau tidak, tapi aku setuju dengan cara bibinya Udi mencegah keponakannya yang yatim piatu agar tak mengemis.
“Benar, pak!” sahut Udi. Ingusnya kembali meleleh. Lengannya kembali mengelapnya.
“Eh, Di, mending kamu ke sana!" Aku menepuk pundak Udi dan menunjuk ke arah penjual sayur mayur yang dijejali oleh pembeli. Kebanyakan ibu-ibu bawa anak. Pasti mereka butuh bantuan Udi, pikirku.
"Wah iya tuh, pak!" Udi melesat menuju kerumunan itu. Seperti melayang, cepat sekali ia sudah sampai di tempat itu, mendekati orang-orang yang membutuhkan jinjingan. Dari kerumunan itu Udi memicingkan matanya ke arahku dan memberikan aku jempol. Alhamdulillah, sepertinya dagangannya laku di kerumunan itu.
Itulah Udi, kenalanku di KRC. Ialah salah satu anak Indonesia yang, walaupun yatim piatu, tetap survive, masih mau berusaha secara normal. Banyak anak-anak seusia Udi yang kutemui di jalan. Namun mereka lebih memilih untuk mengemis atau mengamen dengan gaya mengemis. Melihat mereka, hatiku pedih. Tapi melihat Udi, aku bangga dan bahagia. Aku hanya bisa berharap, anak-anak jalanan yang kadang meresahkan penumpang dan pengendara, mau melakukan pekerjaan lain yang tidak meresahkan orang lain. Seperti Udi, Plastic Boy yang jelas-jelas yatim piatu. Namun untuk mengamen, ia malu. Apalagi mengemis, ia takut.

Buku Gratis dari Lucky Day GK

Jumat, 21 Mei 2010

fan page Guru Kehidupan bagi-bagi buku gratis. Mungkin ini kontes paling gampang di Jagad Maya. Anda hanya diminta menjawab sebuah pertanyaan “Jika buku GK dijadikan kado, siapa yang pantas menerimanya? why?” Jawab saja di kolom komentar page Guru Kehidupan. Yang beruntung akan mendapatkan buku Guru Kehidupan gratis, termasuk ongkos kirim. :D
Yuk langsung ke TKP!

Perempuan Pinggir Pantai

Kamis, 22 April 2010

“Pokoknya tergantung kita, pak. Kalau kita salah menawarkan ke pembeli, dapatnya sedikit. Tapi biasanya kalau saya sih, lumayan. Bisa menutupi kebutuhan anak-anak.”
Bu Onah, Penjual Ikan Asin, Pantai Carita, Anyer


Karena perjalananku melintasi sepanjang Pantai Anyer, akupun memutuskan makan siang di sebuah warung makan, tepat di tepi pantai. Namanya warung Sunda Datu. Areanya cukup luas untuk parkir.  Kulihat sudah ada sebuah bis yang parkir. Berduyun-duyun penumpangnya – sepertinya mereka satu instansi atau perusahaan – turun menuju sawung-sawung yang tersedia. Tapi ternyata mereka hanya melewati sawung-sawung yang ada. Mungkin sudah tidak sabar untuk bercanda dengan desiran ombak di pantai yang landai.
Kuperhatikan juga, berduyun-duyun para pedagang mendekati rombongan tersebut. Mereka menawarkan dagangannya. Rata-rata menjual barang yang sama, ikan asin. Aku tertarik memperhatikan mereka dari sawung, sambil menikmati menu makan siang favoritku, udang goreng kremes dan tumis kangkung.
Sedang asyik makan sambil berbincang dengan temanku tentang pedagang di pantai itu, tiba-tiba datang pula tiga orang pedagang lainnya dari arah berlawanan. Terkejut juga ketika ia langsung menawarkan ikan asin.
“Berapa sebungkus?” tanyaku
“Ada yang duapuluh ribu, limabelas ribu, dan yang ini sepuluh ribuan.”
“Boleh ditawar tidak?” tanya temanku.
“Boleh, namanya juga harga.” Jawabnya.
“Yang ini sebungkus tujuhribu limaratus, saya ambil empat bungkus!” kata temanku yang paling hobi melakukan transaksi tawar menawar. Aku sering merasa tidak enak hati kalau berbelanja dengannya karena tawarannya selalu jauh dari harga yang ditawarkan. Seperti tadi, ikan asin seharga duapuluh ribu ditawarnya menjadi tujuhribu limaratus rupiah.
“Belum bisa, pak!” Jawab sang pedagang. “Kalau yang ini boleh deh.” Ia menawarkan ikan asin yang harganya sepuluhribuan. Temanku diam saja, seolah tidak berminat. Ia melanjutkan menikmati makanannya.
“Sehari bisa dapat uang berapa?” Tanyaku kepada salah seorang perempuan penjual yang sejak awal diam saja, kecuali memperhatikan temanku.
“Kalau lagi ramai bisa dapat di atas seratus ribu. Bahkan bisa sampai limaratus ribu, kalau lagi musim liburan.” Yang paling gemuk, namanya Onah, menjawab tanyaku. Sedangkan yang kutanya tetap diam saja, hanya tersenyum.
“Musim liburan itu kapan saja, bu?”
“Lebaran (Idul Fitri), Natal dan Tahun Baru. Itu yang paling ramai.” Selesai menjawabku, ia kembali menurunkan harga kepada temanku yang makin asyik dengan makanannya. Aku sudah hafal tabiatnya, ia memasang sikap tak butuh, kalau sedang menawar harga.
“Kalau liburan sekolah, ada pengaruhnya tidak?” tanyaku lagi.
“Liburan sekolah biasa saja. Anak-anak sekolah yang liburan ke pantai, tidak ada yang pernah beli ikan asin. Tapi kalau guru-gurunya, beli juga sih. Tapi jumlahnya sedikit.” Kisahnya sambil memilah ikan asin dan mulai menurunkan harga kepada temanku. Yang sedang asyik makan hanya menggelengkan kepala saja. Kupikir, tega sekali temanku ini.
“Kalau tamu rombongan seperti itu” aku menunjuk ke arah rombongan yang masih asyik bermain di pantai, “sering tidak datang ke sini?”
“Kalau rombongan begitu sih, biasanya dari perusahaan. Tapi sekarang masih berenang. Percuma ditawarin. Paling nunggu pas mereka istirahat, baru kita tawarin.” Kata bu Onah. Rupanya ia sudah berpengalaman sehingga memahami kapan saatnya menawarkan ikan asinnya kepada tamu di pantai ini. Bu Onah masih saja mendesak temanku. Kini ia menurunkan harganya menjadi sepuluh ribu asal mau ambil lima bungkus. Temanku baru menoleh.
“Pakai formalin nggak?” Tanya temanku, sebuah pertanyaan yang aku yakin sekedar menutupi perasaannya karena sudah pura-pura tak acuh.
“Kita olah sendiri, pak. Dijamin tidak pake formalin. Lihat formalin saja saya mah, belum pernah. Dijamin deh pak!” jawab bu Onah meyakinkan. Senang juga temanku bisa mendapatkan lima bungkus ikan asin dengan uang limapuluhribu rupiah saja.
“Bagaimana dengan persaingan sesama pedagang?” tanyaku sambil menikmati udang goreng yang renyah sekali.
“Kita mah semuanya kompak, pak. Tidak ada yang bersaing.” Sahut bu Onah.
“Masing-masing sudah pada tahu jatahnya. Jadi tidak merebut pembeli.” Wah, sejak awal baru kali ini pedagang yang lebih kurus bicara.
Menurut cerita mereka, pedagang ikan itu kompak. Mereka bahkan merupakan keluarga sedarah atau tetangga yang saling percaya. Berbagi rezeki dan calon pembeli, merupakan kebiasan baik mereka. Memang ada juga satu-dua orang yang serakah. Yang seperti itu biasanya tak bertahan lama. Sebab tak ada satupun yang mau menolong saat si serakah tak satupun berhasil menjual dagangannya.
“Hari ini sudah dapat berapa?” aku tanya kepada yang lainnya.
“Baru empatpuluh ribu.” Jawab yang kurus.
“Bu Onah sudah dapat berapa?” tanyaku.
“Baru yang barusan, limapuluh ribu.” Jawabnya sambil tersenyum
“Kalau sampai maghrib tak ada juga pembeli, bagaimana? Berarti hanya dapat segitu dong.”
“Dapat berapa juga disyukurin saja. Malah kemarin hanya laku satu, sepuluh ribu saja!” bu Onah sepertinya pandai menyukuri hasil usahanya. Tak ada kecewa apalagi merasa tersaingi oleh sesamanya. Karena memang segitulah rezekinya hari itu.
“Sering dapat banyak atau sedikit?” tanyaku lagi.
“Pokoknya tergantung kita, pak. Kalau kita salah menawarkan ke pembeli, dapatnya sedikit. Tapi biasanya kalau saya sih, lumayan. Bisa menutupi kebutuhan anak-anak.” Ungkap bu Onah. Mungkin yang dimaksud oleh bu Onah adalah tergantung bagaimana dia melakukan personal marketing kepada calon pembelinya.
Bisa jadi pada hari yang lain rezekinya lebih baik dari hari ini. Cara berpikir seperti itu jelas tidak membuatnya frustasi dan tetap menjalani nasib sebagai penjaja Ikan Asin. Seorang pedagang memang biasa menerima kenyataan kalau penghasilannya tidak flat seperti pegawai. Selalu mengalami pasang surut. Semua tergantung dari personal marketing yang dilakukannya terhadap semua orang yang ditemuinya.
Personal Marketing adalah kekuatan seorang pedagang ataupun sales. Seperti yang dilakukan oleh para perempuan penjaja ikan asin ini. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka membantu suami dengan berdagang keliling. Inilah wujud persamaan tanggung-jawab yang mereka pahami sebagai bakti terhadap suami. Merekalah inspiring woman yang dapat kita temui di sepanjang obyek wisata pantai Anyer. (MT)

Kenapa Mie Janda ada di Buku Guru Kehidupan?

Senin, 01 Maret 2010

Artikel ini repost dari website Mie Janda.

Adalah keberkahan bagi kedai sahaja yang bernama Mie Janda. Bagaimana tidak, setelah diliput sasiun televisi, dikupas di banyak web dan blog, kini Mie Janda juga dimuat dalam sebuah buku dahsyat karya Mataharitimoer yang berjudul "Guru Kehidupan, Belajar Kaya dari Si Miskin" yang diterbitkan oleh Literati pada Januari 2010. Buku ini memuat  tiga puluh kisah inspiratif tentang hidup terhormat dalam keterbatasan. Dan Mie Janda dikupas pada kisah sembilan yakni di halaman ke-68 sampai dengan halaman ke-74 buku tersebut.

Alasan kenapa Mie Janda dimuat dalam buku Guru Kehidupan ini adalah karena Mie Janda merupakan satu unit usaha yang memiliki kesadaran tentang kepedulian terhadap lingkungan, atau yang biasa dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR). Meski Mie Janda masih merupakan usaha berskala kecil atau menengah, tapi Mie Janda dianggap telah mampu melakukan tindakan mulia tersebut. Hal ini bisa dilihat dari adanya dana yang dialokasikan untuk dana sosial, yakni 2,5 % dari omzet Mie Janda langsung dialokasikan untuk membantu anak yatim dan dhuafa, membantu korban bencana dan lain-lain.

Mataharitimoer, sang penulis buku tersebut datang langsung ke Mie Janda pada tanggal 20 Januari 2010 untuk menyerahkan salah satu bukunya sebagai hadiah. Ini merupakan moment indah bagi para kru Mie Janda yang akhrnya bisa bersua dengan penulis novel fenomenal yang berjudul "Jihad Terlarang" itu.

Meski dalam buku Guru Kehidupan ada kesalahan pencantuman alamat Mie Janda. Yang seharusnya Mie Janda terletak di Cibinong (Bogor) dan Cilodong (Depok) tetapi di buku tertulis Cimanggis dan Margonda (Depok), toh semangat, pesan dan hikmah yang disuguhkan penulis tidak menjadi berkurang. Jadi, buku ini layak dibaca bukan hanya karena di dalamnya dimuat tentang Mie Janda, tapi karena buku ini bisa membuat para pembacanya terajak untuk menjadi pribadi yang kuat, bersemangat, dan pandai bersyukur.

Bedah Buku Guru Kehidupan di NFBS Anyer

Senin, 15 Februari 2010

Sabtu, 13 Februari 2010 OSIS SMAI Nurul Fikri Boarding School dan Learning Resource Center NFBS menyelenggarakan acara Bedah Buku Guru Kehidupan. Hadir dalam acara tersebut, penulis buku Guru Kehidupan, Mataharitimoer dan Pak Mustaya, salah seorang sosok yang ada dalam buku tersebut.

Acara yang dimoderatori oleh Hari Untung Maulana, mendapatkan sambutan yang meriah dari seluruh siswa dan juga dewan guru NFBS Anyer.

Dalam acara tersebut, MT (sapaan akrab penulis) diminta untuk menjelaskan tentang latar belakang, proses kreatif, dan memotivasi para pelajar untuk giat menulis. Dalam kesempatan itu, MT menjawab pertanyaan moderator, tentang makna keempat bab yang ada dalam buku yang diterbitkan oleh Literati (imprint dari penerbit Lentera Hati). "Ada 4 tema yang mengikat setiap artikel dalam 4 bab, yaitu konsistensi, ketulusan, syukur, dan kemuliaan." terang MT.

Pada kesempatan yang sama, Pak Mustaya mengungkapkan keterkejutannya ketika mengetahui kalau dirinya ada dalam buku Guru Kehidupan. "Saya diberitahu oleh teman saya (Bima, red) tentang keberadaan saya pada buku MT. Terus terang saya terkejut. Saya ini hanya seorang supir. Saya tak menyangka kalau obrolan saya dengan kang MT akan dibukukan." ungkap Pak Mustaya.

Acara bedah buku yang bertempat di panggung Kolam Renang NFBS itu dibuka oleh Direktur Pesantren Ibnu Salam Nurul Fikri, Ustadz Muhammad Damiri, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan harapannya agar buku Guru Kehidupan dapat memberikan manfaat besar bagi orang-orang yang membacanya.

Acara ditutup dengan games yang dipandu oleh moderator. 3 siswa SMAI NFBS beruntung mendapatkan gratis masing-masing sebuah buku Guru Kehidupan.

Menengok Diri

Rabu, 10 Februari 2010

Review Guru Kehidupan oleh Julie

tumpukan kertas bernama buku yang sedang kugenggam dan kulumat huruf-hurufnya itu diberi judul Guru Kehidupan . sepanjang usiaku belum pernah sekalipun tertarik untuk sekedar melongok ke dalam lembaran buku bertemakan profil manusia sejenis biografi. memanglah aku tau buku ini bukan semacam biografi, namun (gak pake “bang”) sebuah oretan tentang daya hidup orang-orang dalam keterbatasannya. daya hidup.
itulah inti dari semuanya.

ketika mendapati “bocoran” kover bukunya sebelum terbit, terang-terangan aku sudah tak suka dengan warnanya. KUNING (sejak kapan kow suka warna kuning praz?) dan sepanjang hari berdebat kenapa harus kek gitu hurufnya dll dan hanya dijawab dengan jawaban “quantum satis” oleh sang penulis.

lalu ketika menerima offline di kedua belah tanganku, langsung kubuka lembarannya,mencari katakata dan tandatangan penulisnya dan kalimat kalimat pendahulunya.
meski pernah membaca naskah aslinya yang lebih lengkap dari kang MT, namun aku tak keberatan untuk membacanya lagi. kalimat kalimat yang memenuh kertas kecoklatan itu memang seperti menyihir. hidup.begitulah.

Mataharitimoer membawaku menengok ke diri, betapa beruntungnya hidupku dan segala yang kupunya patut disyukuri.

tengoklah ke dalam dirimu, ke dalam jiwamu, karena setiap orang juga mampu menjadi GURU kehidupan bagi dirinya sendiri dan orang lain.

bagi yang berminat dapat gratisannya silakan ikuti event menulis di blog mataharitimoer.

Kisah Orang-orang Berhati Kaya

Rabu, 03 Februari 2010

Judul Belajar Hidup Kaya dari Si Miskin [Guru Kehidupan, 30 Kisah Inspiratif Tentang Hidup Terhormat dalam Keterbatasan]
Penulis Mataharitimoer
Penerbit Literati
Tahun Cetakan 1, Januari 2009
Volume 238 halaman

Kaya bukan hanya berarti punya harta berlimpah. Kaya bisa juga berarti punya jiwa besar dalam mengarungi bahtera hidup. Orang disebut kaya bisa pula berarti secara ekonomi dia pas-pasan, tapi secara batin, dia bahagia, sabar, dan ikhlas menerima kenyataan hidup. Mungkin pengertian kaya seperti inilah yang coba ditampilkan dalam 30 kisah inspiratif dalam buku Belajar Hidup Kaya dari Si Miskin [Guru Kehidupan]. Buku karangan Mataharitimoer ini berisi 30 kisah inspipratif tentang hidup terhormat dalam keterbatasan.

Di bukunya ini, Mataharitimoer mengumpulkan 30 narasumber dari berbagai profesi dan pekerjaan, yang rata-rata dari golongan marginal. Lewat narasinya dengan subjek penutur “aku” Mataharitimoer berbagi pengalaman saat dirinya bertemu beberapa orang di beberapa tempat saat mengais rezeki dengan caranya sendiri, misalnya jadi tukang semir, pemain kecapi, office boy, dagang nasi uduk, sampai bisnis lewat media blog internet. Memang sosok-sosok seperti mereka bukanlah sosok luar biasa. Setiap hari kita bisa melihat mereka di berbagai tempat. Tapi sampai sejauh manakah kita mengenal mereka? Dan bagaimana mereka bisa bertahap hidup dengan profesinya?

Jawabannya ada di buku ini. Mataharitimoer memperkenalkan kepada kita orang-orang yang berjuang agar bisa tetap survive. Kita bisa mengambil pelajaran dan memetik hikmah dari buku ini bahwa setiap orang bisa hidup dengan cara halal. Karenanya, buku inspiratif ini bisa berguna bagi siapa saja, bahkan bagi koruptor yang ingin segera insyaf. « [yogira]

sumber : alifmagz

Ke Orang Biasa pun Kita Bisa Berguru

Senin, 01 Februari 2010

Review GK oleh Karmin Winarta

konon mereka yang tak berpendidikan formal, biasanya belajar dengan hati. skill mereka di era teknologi yang perkembangannya begitu cepat ini tak laku. di lirik lagu mereka disebut orang pinggiran. di hasil riset marketing mereka masuk kelompok E.

namun bagi seorang mataharitimoer mereka semua dianggap gurunya. laki-laki yang biasa di sapa mt itu mempunyai sudut pandang unik. dari perjalanannya ke daerah-daerah di seluruh indonesia ia banyak menjumpai orang-orang biasa yang punya pemahaman hidup sangat luar biasa.

rupanya mt sedang melakukan dekontruksi-dekontruksi. ketika semua orang berlomba-lomba mencari tempat belajar terekslusif, dia sengaja memilih “jalanan” sebagai area belajarnya. ketika banyak orang berbondong-bondong berkiblat pada cerdik cendekia dan ulama dia memilih rakyat jelata sebagai panutannya.

pada buku keduanya ini, mt menceritakan perjumpaanya dengan orang-orang biasa yang lebih inspiratif dibanding apa yang diceramahkan motivator. menurutnya apa yang disampaikan motivator itu telah menjadi bagian dari hidup keseharian orang-orang yang ditemuinya tersebut.

misalnya ketika berbincang dengan mak encoh penjual nasi uduk, mang toha penjual bajigur atau mang saslan pedagang kue putu ia selalu menemukan pencerahan. orang-orang yang itu mampu mendedahkan pemahaman mengenai kebijakan hidup tanpa sepatah kata pun.

dengan membaca guru kehidupan ini, mt mencoba menyentak kesadaran kita bahwa untuk memahami bagaimana memaknai hidup kita tak perlu belajar dari depak coopra atau ikut seminar cara cepat mencapai makrifat di hotel-bintang lima.

dengan membaca 30 kisah-kisah inspiratif ini kita akan termotivasi untuk menjalani hidup tanpa keluhan, makian dan penyesalan. mt seolah mengingatkan kepada pembacanya, kebahagiaan itu tidak datang dari hal-hal di luar diri.

yang paling inspiratip adalah kutipan dari kakek penjaga mushola, “ketika tak ada lagi orang yang sudi mendengarmu, siapa lagi yang paling mulia telinganya selain Tuhan?”

judul buku : guru kehidupan
penulis : matahari timur
jumlah hal : 238
penerbit : lentera hati

Guru Kehidupan di Sekitar Kita

Minggu, 31 Januari 2010

Banyak guru kehidupan di sekitar kita. Anda bisa menemukannya hanya beberapa langkah dari tempat anda duduk. Bisa jadi mereka ada di dekat rumah, kantor, sekolah, kampus, dan lain tempat dimana anda sering keluyuran.

Ada 5 buku Guru Kehidupan yang kami sediakan bagi blogger yang terpilih. Caranya, buat sebuah tulisan di blog anda dengan tag "guru kehidupan". Lebih jelas, silakan ikuti cara mainnya :

  1. Tulisan berisi tentang sosok guru kehidupan yang anda temukan. Gaya tulisan boleh seperti penulisan dalam buku Guru Kehidupan karya MT. Boleh juga dengan gaya anda sendiri.
  2. Lengkapi postingan tersebut dengan potret sang guru kehidupan yang anda wawancarai. 
  3. Tulisan harus karya anda sendiri, bukan ciplakan karya orang lain. 
  4. Tulisan merupakan postingan yang anda publish setelah pengumuman ini dipublish. Jadi bukan tulisan lama yang telah anda posting sebelumnya.
  5. Tulisan bersifat inspiratif, tidak mengandung SARA, pornografi, kekerasan, dan disintegrasi nasional.
  6. Sertakan TAG "guru kehidupan" pada tulisan anda.
  7. Setiap orang bebas menulis lebih dari satu postingan tentang guru kehidupan yang berbeda.
  8. Pendaftaran gampang. Tuliskan informasi pada kolom komentar pada pengumuman ini, seperti :
    Nama : nama anda
    URL Blog : alamat blog anda
    Link : alamat (url) link postingan pada blog anda, yang anda ikutkan dalam event ini.
  9. Anda mengizinkan postingan tersebut kami re-post pada blog ini dengan tetap menyertakan link ke blog anda.
  10. Sebagai pelengkap, pasang banner Guru Kehidupan pada blog anda. copy/paste kode banner di bawah postingan ini.
  11. Event ini dibuka sejak dipublikasikan dan ditutup pada 27 Pebruari 2010.
  12. Pengumuman 5 blogger yang mendapatkan 5 buku GK, 06 Maret 2010

Ini kode bannernya :


<a href="http://gurukehidupan-mt.blogspot.com/"><img src="http://mataharitimoer.blogdetik.com/files/2010/01/banner-gk.jpg" border="0" alt="gurukehidupan"></a>
    Jabat erat!
    MT

    Penyapu Gerbong KRL


    Begini saja sebenarnya malu. Tapi gimana lagi, jadi orang kantoran susah...
    – Sadikin, Tukang Sapu KRL, Kemayoran –

    Badannya masih sehat. Tak ada cacat. Ia mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istrinya dengan bermodalkan sapu uduk yang dipotong tangkainya.
    Dari gerbong ke gerbong ia membersihkan lantai kereta. Di kolong bangku biasanya banyak sampah yang diselipkan oleh penumpang KRL. Maklum, membuang sampah pada tempatnya belum menjadi budaya bagi rakyat kita. Lagipula pengelola kereta tak menyediakan tempat sampah di gerbong-gerbong yang setiap hari dipenuhi oleh sampah manusia.
    “Koq, nggak ke gerbong sebelah, bang?” tanyaku. Setelah mendapatkan recehan, ia duduk di sebelahku, dekat pintu.
    “Udah tiga gerbong. Cukup...” jawabnya.
    “Cuma tiga gerbong? Nggak semua gerbong disapu?” tanyaku.
    “Bagi-bagi sama yang lain. Kan bukan saya aja yang nyapu.” Bang Sadikin menceritakan tentang rekan seprofesinya, yang kebanyakan anak-anak. Ternyata ada kesepakatan tak tertulis di antara mereka tentang pembagian gerbong pada setiap kereta yang jalan.
    “Bagus juga, jadi ada saling pengertian ya?” pujiku.
    “Kalo nggak begitu, kasihan anak-anak. Mereka pasti takut sama yang lebih gede.” Jawab bang Sadikin yang tinggal di sekitar Pasar Senen.
    “Tidak semua orang memberi upah. Gimana perasaan abang?” tanyaku menelusuri hati.
    “Kalo satu gerbong nggak ada yang ngasih sama sekali, sih... kesal juga. Tapi mau diapain lagi, itu mah, nasib! Lagi sial kali!” kuperhatikan tangannya dekil. Debu sudah melekat kuat di jari-jemarinya.
    “Pernah saya lihat, teman abang yang masih anak-anak itu memaksa minta uang dari penumpang. Suka begitu juga nggak?”
    “Hehehe... malu ah. Kalo anak-anak sih, wajar. Mereka kadang merasa jagoan. Yach... anak-anak...” ia tersenyum membayangkan rekannya yang masih kecil-kecil. Sepertinya ia memang tak pernah memaksa untuk minta uang kepada penonton. Kuperhatikan tadi, ketika ada penumpang yang acuh, ia hanya melewati saja sambil tersenyum dan melanjutkan menyapu.
    “Saya salut sama abang. Tidak mau mengemis!” pujiku lagi.
    “Wah, nggak berani saya! Begini saja sebenarnya malu. Tapi gimana lagi, jadi orang kantoran susah...” ia tersenyum.
    “Sehari bisa dapat berapa, bang?”
    “Tergantung rezeki. Kadang bisa 10-20 ribu. Malah pernah Cuma dapat 700 perak, hehehe...”
    “Hari ini?”
    “Belum tau deh. Biasanya baru dihitung kalo udah mau pulang sih...” Kulihat hasil kerjanya cukup bersih.
    “Kadang ada juga yang buang sampah cair, bahkan meludah di gerbong. Tidak jijik?”
    “Udah biasa sih, nggak! Kan didebuin dulu, baru bisa diangkat.”
    Bang Sadikin benar-benar bekerja di gerbong ini. Kadang kulihat ada juga anak-anak yang sekedar menggoyang-goyangkan sapu, tapi sampah tak terambil. Ada juga yang hanya meminggirkan sampah di pojokan gerbong. Tapi bang Sadikin berbeda. Ia selalu membawa plastik untuk memasukkan sampah di tiap gerbong, untuk dibuang di tempat sampah di stasiun ketika ia turun untung berganti kereta.
    Debu, plastik, kertas, kardus, bekas bungkus makanan atau minuman kemasan dibersihkan dari lantai gerbong ini. mungkin hanya satu yang tak bisa ia bersihkan, yaitu prasangka penumpang kereta, yang tidak jarang mencurigai macam-macam. Kadang ia disikapi seolah mau mengemis. Kadang dipandang seolah mau menjambret tas. Begitulah resiko yang dihadapi oleh bang Sadikin.
    Kadang kita yang nasibnya agak lebih baik, suka berprasangka buruk kepada mereka yang mengais rezeki di jalan… walaupun mereka adalah sebagian dari guru kita, guru kehidupan. [MT]

    Guru Kehidupan dari Mataharitimoer

    Rabu, 20 Januari 2010

    Sebuah review buku Guru Kehidupan dari seorang blogger blogdetik, Ani Berta


    Buku setebal 238 Halaman dengan cover foto foto guru kehidupan karya seorang dblogger yang akrab dipanggil MT, yang penuh inspirasi ini, mengundang penasaran dan membuat ingin membaca sampai tuntas saat itu juga.

    Ada 30 cerita yang merupakan isi dari obrolan penulis dengan 30 orang guru kehidupan yang sarat makna dan inspirasi, membuat pembaca merasa luluh dari kesombongan dan mengurai rasa tak bersyukur menjadi sesuatu hal yang membuat kita merasa telah diberi anugrah tiada tara dari Nya.

    Dari 30 cerita inspirasi yang diantaranya adalah Kisah ke 19 , seorang anak tukang semir sepatu yang melakukan bisnis kecilnya ini berprinsip pada landasan kejujuran, kejujuran menggunakan semir asli tanpa oplosan yang bisa menguntungkan banyak, dia punya keyakinan kalau kejujuran itu akan menghasilkan rezeki yang berkah juga pelanggan setia, dari sini kita dapat berkaca bahwa pebisnis kelas bawah bisa yakin tidak kekurangan rezeki dan mau memberi kualitas dan sesuatu yang terbaik buat orang banyak tanpa keuntungan semata, sementara orang kalangan atas rata rata korupsi gak puas puasnya dan pengusaha besar banyak kecurangan mengoplos produknya dengan bahan bahan yang kadang membahayakan konsumen, rasanya kita perlu belajar dari sini akan arti kejujuran dan keyakinan bahwa kita tak akan hilang rezeki dengan berbuat jujur itu.

    Ada lagi kisah ke 3 yaitu, kisah Pak Arsyad Kadir yang berani berubah dalam pilihan yang sulit, ketika banyak yang menyepelekan usaha MLM dan memandang sebelah mata, namun Pak Arsyad mau mencoba bukan sekedar mencoba tapi usaha dan menekuni pilihannya dengan menghadapi segala rintangan, resiko dan konsekuensinya tanpa pedulikan pengaruh orang yang tidak support, hasilnya beliau mendapatkan buah keberhasilannya itu karena ternyata MLM jika dikerjakan dengan baik dan tekun akan menuai hasil dari usahanya, ini bukti usaha tekun dan ulet tidak ada yang sia sia.

    Dalam kisah ke 4, ini cerita inspiratif dari seorang dblogger yang akhir akhir ini sedang sibuk sekali dengan toko online nya, banyak teman teman yang belajar darinya bagaimana mengelola toko online, namanya Lies, dia tak pernah pelit untuk membagi ilmunya karena ia sadar bahwa semua yang ia dapatkan dan ia raih adalah berkat hubungan pertemanan yang baik dengan semua orang, ia dapat mewujudkan toko online, supplier barang dan lain sebagainya adalah dukungan dari pertemanan di dunia maya dan nyata, saat merantau ke Palembang pun ia tak menemui kendala apapun karena dapat mandiri dengan memulai usaha bermodal kamar kost dan sebuah komputer dan modem serta jalinan relasi pertemanan. Pelajaran yang dapat dipetik adalah betapa pentingnya rasa kepercayaan yang ditanamkan sama teman kita dan kita pun dituntut sebaliknya.

    Masih ada 27 cerita inspiratif dari guru kehidupan yang lain dalam buku ini, dari beragam profesi dan corak masyarakat, yang dituturkan penulis dengan gaya santai sehingga tak sulit untuk menyerap pelajaran yang terkandung didalamnya, gaya dialog lebih mendominasi sehingga semakin asyik dibaca.
    Dari keseluruhan cerita dapat dipetik pelajaran berharga tentang betapa tingginya nilai diri kita dan berkah hidup yang kita dapat dari Nya selama ini, walau dalam hal yang terbatas namun jika kita dapat menanggapi dan mengelolanya dengan tepat dan penuh rasa syukur akan menjadikan semua itu anugrah tak ternilai yang tak dapat dibandingkan dengan mercedes, berlian atau istana megah.

    Karena kita telah punya rasa bahagia dari hidup mandiri dan tidak menyusahkan orang malah kita telah memberi arti bagi orang lain dengan sesuatu dan kemampuan yang kita punya dalam kapasitas kita.
    Buku yang patut melengkapi koleksi buku teman teman nih, jika mau pesan silahkan hubungi  email   mataharitimoer at gmail.com  atau Klik Disini

    Abdul Hamid : Pesan Sang Veteran

    Minggu, 27 Desember 2009

    Sekali tidak jujur, hidup tidak akan benar! Pasti dapat masalah terus!
    Abdul Hamid Surya, Veteran, Stasiun Kota –


    Sejak pertamakali melihatnya di Peron Stasiun Kereta Api Jakarta Kota, aku sudah tertarik padanya. Dandanannya rapih. Ia mengenakan kemeja batik warna coklat. Kacamata hitam membuatnya lebih menarik perhatian. Dan yang paling menarik bagiku sebuah pin yang menempel di pecinya yang lapuk. Itu adalah sebuah pin yang hanya dimiliki oleh orang yang mendapatkan penghargaan atas jasanya, sebagai veteran.
    Veteran adalah julukan yang diberikan pemerintah kepada mereka yang telah menyumbangkan tenaganya secara aktif atas dasar sukarela dalam ikatan kesatuan bersenjata (resmi maupun kelaskaran) dalam memperjuangkan, membela dan mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Merekalah yang berjibaku langsung di front rakyat untuk menghalau penjajah dari negeri ini.
    Nama lengkapnya Abdul Hamid Surya. Kesempatan bicara dengannya kudapatkan ketika ia sibuk mencari-cari korek api untuk menyulut rokok kreteknya. Kuberikan padanya sebuah korek api gas. Iapun tersenyum dan berucap terima kasih. Di bangku peron, kami berbincang berdua.
    “Mau kemana, pak?” tanyaku setelah memotretnya.
    “Kroya!” jawabnya tegas. Mulutnya kembali menghisap rokok kretek merk lama yang masih eksis sampai saat ini.
    “Sendiri saja, tidak ada yang mengantar, pak?”
    “Memang kenapa? Dari dulu saya sering jalan sendiri.” Setiap bicara, ia selalu memperhatikan lawan bicaranya. Menatapku, hingga aku agak canggung karena ia berkacamata hitam. Aku sulit melihat tatapan matanya.
    “Tidak apa-apa sih, cuma khawatir saja, perjalanan ke Kroya lumayan jauh.” Alasan spontanku.
    “Ah, dari dulu bapak nggak pernah takut! Siapa yang berani macam-macam, saya lawan!” jawabnya tegas. Asap rokok dari mulutnya terbuang cepat.
    “Waktu bapak berperang dulu, adakah sedikit rasa takut?” tanyaku mengharapkan ia bercerita.
    “Rasa takut itu pasti ada. Tapi karena dulu, yang ada di pikiran semua bangsa adalah perang, maka hati kitapun terpacu untuk berani melawan penjajah” Jawabannya tegas.
    “Apakah saat itu bapak sudah menikah?”
    “Belum!”
    “Sekarang banyak anak muda yang takut mati sebelum menikah. Bagaimana saat bapak muda dulu?”
    “Hohoho… nikah? Itu belum terpikir, dik!” ia memanggilku adik, “Kalaupun ada teman-teman saya yang sudah punya pacar, tapi mereka siap mati demi membela bangsa!”
    “Akhirnya mereka gugur, pak?”
    “Tidak semua.”
    “Apa yang bapak rasakan selama hidup sejak zaman perang, zaman Sukarno, Suharto, Habibie, Gusdur, Mega, hingga SBY kini?”
    “Hanya satu hal : kejujuran semakin ditinggalkan!” katanya sambil menghisap rokok kreteknya yang tinggal setengah. “Dulu, waktu kami berperang. Kami paling anti untuk mengambil harta yang tersisa dari bangkai penjajah yang kami bunuh. Walaupun ada saja orang-orang yang tetap mencuri dompet, gelang, jam, atau apapun yang melekat pada tubuh bangkai yang tak berdaya itu. Kami berjuang dengan jujur, kami hanya mencari kemerdekaan, bukan harta!”
    “Padahal, mereka itu kan penjajah, pak. Bukankah wajar kalau hartanya diambil buat orang yang membunuhnya?” selaku.
    “Menurut kamu begitu, tapi sebagai pejuang sejati, yang kami cari bukan itu. Kami pantang mencuri sepeserpun dari bangkai panjajah!”
    “Dosa, ya pak?” aku menegaskan.
    “Bukan! Bukan hanya dosa! Tapi perjuangan kami jadi sia-sia!” tak kusangka penegasanku salah.
    “Walaupun hanya jam tangan saja, pak?”
    “Sekali tidak jujur, hidup tidak akan benar! Pasti dapat masalah terus!” tegasnya.
    “Kini bagaimana pak?” tanyaku singkat.
    “Seperti yang saya bilang tadi, KEJUJURAN para pengayom negeri makin tipis. Mungkin yang memimpin sekarang adalah mereka yang ketika perang, mencuri harta dari bangkai penjajah itu….” hm… sederhana namun mendalam sekali jawaban pak Hamid. “Makin hari, para pengayom negeri ini semakin kebablasan dalam memperjuangkan kemerdekaan! Bangsa kita makin banyak masalah! Saya yakin, ini pasti ada yang tidak jujur!”
    “Lho, memang sekarang masih berjuang demi kemerdekaan, pak?” tanyaku
    “Selamanya kita berjuang mencari kemerdekaan, terutama dari penjajahan nafsu terhadap hati kita! Itu yang semakin hari semakin kami lihat, para pengayom negeri ini belum merdeka! Itu perjuangan yang saat ini harus kita perjuangkan!”
    “Berarti kejujuran itu begitu penting dalam perjuangan ya, pak?”
    “Kejujuran itu tak ada habisnya! Dari dulu sampai mati, kita harus berani jujur!” nasehatnya padaku.
    Ia kembali menyulut sebatang rokok. Aku kembali menyalakan korek api dan menyulutinya. Hisapan pertama begitu dalam. Asapnya diseolah-olah ditelan, lalu dihembuskan melalui lubang hidungnya. Ia masih belum berhenti bercerita. Perjuangan melawan penjajah adalah kisah yang paling semangat ia ceritakan. Hampir semua orang yang juga duduk di peron stasiun ini, memperhatikan perbincangan kami. Lebih tepatnya, memperhatikan pak Hamid, yang kini sudah berusia 86 tahun. Yang sedang menunggu kereta menuju rumahnya, di Kroya.
    “Apa yang bapak inginkan sebelum dipanggil Tuhan?” sebenarnya aku enggan menanyakan hal ini, khawatir ia tersinggung karena aku menanyakan tentang kematian.
    “Apa? Nggak ingin apa-apa. Mati ya mati! Lha orang mau mati koq mikirin macam-macam!”
    “Maaf pak, maksud saya, kalau Bapak meninggal, apakah ingin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, seperti para pejuang atau tentara yang lainnya?”
    “Ah dimana saja, terserah Tuhan mematikan saya dimana, di situlah saya dikubur. Karena kami pejuang, dimanapun kami siap mati!”
    Banyak tutur kata yang patut kita renungkan dari pak Hamid. Ia menjadikan kejujuran sebagai prinsip perjuangannya. Meskipun banyak peluang untuk mencuri harta hasil perjuangan, tapi ia tak mau melakukannya. Dan baginya kejujuran hanya bisa dilakukan oleh orang yang jiwanya merdeka.
    Sebagai pejuang tua, ia tak khawatir mati di mana saja. Iapun tak punya keinginan untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, yang merupakan prestise bagi keluarga para pejuang. Di manapun ia mati, di situlah ia minta dikuburkan. [MT]

    Mudrik : Orang Gila

    “Sudah! Diam saja, biarkan saja mereka ngomong! Jangan didengarkan!”
    - Mudrik, Orang Gila, Ciparay-Anyer -


    Keduanya duduk di bale depan warung nasi Suka Rasa di Ciparay, Anyer. Yang lelaki bertopi haji. Rambutnya panjang melewati bahu. Banyak tanah dan debu yang melekat di beberapa helai rambut itu. Tangannya asyik melinting rokok. Namanya pak Mudrik. Orang-orang di sekitar warung yang kutanya bilang, “Orang gila!”
    Ia didampingi seorang perempuan. Rambutnya gimbal. Tanah dan kotoran berupa serpihan daun menjadi perekat dan penghias rambut kusam dan awut-awutan. Tatkala ia tersenyum, aku sempat melihat giginya yang hitam-hitam. Orang-orang yang kutanya bilang, “Itu istrinya, gila juga!”
    Pak Mudrik mendapat predikat gila dari masyarakat setelah diketahui gagal bunuh diri. Mulanya ia kecewa kepada orang tuanya karena tak juga membelikannya sepeda motor. Saat itu ia sudah menikah dengan istrinya yang pertama. Kekecewaan itu ditambah dengan tekanan batin atas sikap istri dan keluarganya, pak Mudrik lantas nekad gantung diri. Tapi Allah tak berkenan atas kematiannya. Ia hanya mengerang merasakan sakit pada lehernya yang terjerat. Sejak itulah ia dianggap gila.
    Pak Mudrik sering jalan kaki sepanjang jalan. Dari Anyer sampai Padarincang, kira-kira 30 kilometer lebih, merupakan jalurnya. Beberapa kali ia hidup bersama dengan perempuan yang juga gila. Dengan perempuan Jawa, ia pernah mempunyai anak. Lahirnya di sebuah kios Pasar Cinangka. Perempuan Jawa itu meninggal karena tabrak lari. Beruntung ada orang Jakarta yang mengambil anak tersebut dan mengadopsinya. Sedangkan pak Mudrik, kembali pada dunianya sendiri. Bertemu perempuan gila lagi, kawin lagi, ganti lagi, hingga beberapa bulan ini selalu bersama dengan perempuan Sunda berbaju hijau.
    “Ngomongin saya, ya?!” istrinya menghampiriku, marah dalam bahasa sunda. Aku heran, ia mengetahui isi perbincanganku dengan orang-orang di warung nasi ini.
    “Memangnya saya tidak tahu kalau kamu ngomongin saya!” Bentaknya! Masih dalam bahasa sunda yang tak aku mengerti. Aku baru paham setelah diberitahu artinya oleh pemilik warung yang rutin memberi Mudrik makanan.
    “Sudah! Diam saja, biarkan saja mereka ngomong! Jangan didengarkan!” Sang Suami, yang bernama Mudrik itu memanggil istrinya agar tidak lagi memarahi kami. Juga dalam bahasa Sunda. Sang istripun menurut dan mereka berdua kembali duduk di depan warung nasi, memandang ke arah pantai.
    Aku bergegas dari warung nasi, melanjutkan perjalanan. Sebelum memasuki mobil, aku menghampirinya sebentar, menganggukkan kepalaku di depannya, bermaksud mohon maaf atas ketersinggungannya.
    Begitulah, kehidupan pak Mudrik, orang gila yang kutemui di Ciparay. Mengapa aku mengangkat topik orang gila? Karena biasanya kita memang tak pernah mau mencoba peduli dengan mereka yang kita anggap gila. Kita terlalu menjaga jarak dengan mereka yang gila. Salah satu yang membuat orang menjadi gila adalah karena kurangnya perhatian. Jika kitapun tak sudi memberi perhatian saat mereka gila. Maka merekapun makin merasa kesepian di tengah kehidupan yang amat ramai.
    Kitapun pasti berpikir agar sebaiknya orang-orang gila itu direhabilitasi di Rumah Sakit Jiwa. Pemerintah mestinya memberikan perhatian buat mereka. Bukannya membiarkan mereka berkeliaran di jalan. Ada yang bilang, RS Jiwa sudah tak muat lagi buat orang gila. Makanya mereka dibiarkan punah secara alamiah. Tragis sekali jika anggapan tersebut sebuah kebenaran. Kita tak pernah mengetahui berapa anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk orang-orang seperti Mudrik. Adakah?
    Pak Mudrik memang gila. Tapi selama gila, dia tak pernah mengganggu orang lain yang waras. Justru yang sering terjadi sebaliknya, orang-orang waras yang mengusir apabila Mudrik duduk istirahat di pinggir jalan atau di depan rumahnya.
    Kita sering tidak peduli terhadap orang lain, apalagi jika orang lain itu kita anggap gila. Jangankan untuk membiarkannya diam di depan rumah kita, untuk memberi sepiring makanan saja, sepertinya kita merasa jijik. Padahal, bisa jadi Tuhan mengirim orang gila di depan rumah kita, untuk menguji sebesar apa hati kita untuk tidak menganggapnya kecil dibanding kita, untuk menguji apakah kita masih merasa paling mulia dibanding manusia lain. [MT]

    Wanti : Tantangan Penyedia Jamu Gendong

    “Dari pada saya pulang setiap bulan, mendingan uangnya saja yang dikirim ke kampung.”

    - Wanti, Penjaja Jamu, Merak Banten -



    Hampir satu jam aku di Ferry yang akan menyebrangkanku dari Merak ke Bakauheni. Urat-urat badanku terasa ngilu. Mungkin karena sejak awal aku asyik menikmati lautan selat Sunda ini dari Dek. Sementara angin senja begitu besar. Tiba-tiba aku teringat, sepertinya beberapa menit lalu ada seorang tukang jamu yang melintasiku. Kemanakah gerangan dia?
    Aku mencarinya ke arah parkiran truk. Biasanya tukang jamu paling berharap dengan rezeki supir truk. Mereka malah menjadi seperti langganan tetap. Benar saja. Aku menemukannya sedang memberikan segelas jamu kepada salah seorang supir truk. Akupun memesan jamu anti masuk angin, dicampur telur bebek, cairan brotowali yang amat pahit dan sedikit pemanis.
    “Ndak sekalian pake urat madu, mas?” tanyanya dengan gaya bicara Jawa yang lemah lembut.
    “Urat madu? apa itu?” aku benar-benar tak mengerti. Dalam kepalaku ketika mendengarnya adalah urat dari cairan madu. Tapi benakku sendiri menolak, masak sih madu ada uratnya…
    “Ini lho, kapsul urat madu. Bisa bikin kuat dan tahan lama.”
    “Bisa buat charger hape, dong!” candaku.
    “Bukan buat hape, tapi buat begini, lho!” ia mengepalkan tangannya. Ibu jarinya dijepit antara jari telunjuk dan jari tengah. Lalu ia menjelaskan tentang khasiat kapsul tersebut sekali lagi, mulai dari A sampai Z. mulai dari urusan ereksi sampai durasi. “Murah, mas. Cuma 25 ribu perbungkus. Isinya 2 kapsul.” Begitu akhir penjelasannya.
    “Memang kapsul seperti itu banyak peminatnya?” tanyaku kepada mbak Wanti yang menyimpan kembali sebungkus kapsul urat madu karena mengerti kalau aku tak berminat.
    “Banyak juga. Biasanya supir yang suka pesan.”
    “Untuk mereka pakai dimana? Di kapal ini?”
    “Ada yang di sini, ada juga yang di luar. Namanya juga supir, suka mampir.” Mbak Wanti mesem-mesem. Walaupun aku tak percaya sepenuhnya. Karena temanku juga supir, dan ia adalah suami yang setia kepada istrinya.
    “Suka digodain nggak, mbak?”
    “Ya sering”
    “Dilayani nggak?”
    “Kadang dilayani, ya kadang ndak. Lha namanya juga orang jualan.” Ia menceritakan pula pengalaman teman-teman seprofesinya yang kadang tak bisa menolak ketika dipaksa kencan oleh lelaki yang birahinya sudah diujung kepala. Tapi baginya, kalau hanya sekedar bercengkrama saja, tak masalah.
    “Sudah berkeluarga, mbak?” kupotong ceritanya karena kurang tertarik untuk membahasnya.
    “Suami saya di Jawa jadi petani. Anak saya baru 1, baru masuk SMP.” Lalu mbak Wanti berkisah tentang kehidupannya dengan suami dan anaknya ketika ia masih di Solo.
    “Tiap bulan pulang, mbak?”
    “Si mas ini… bikin saya jadi kepingin pulang kampung saja.” Merenung. Entah merenungi nasib keluarganya atau nasibnya di atas kapal penyebrangan ini.
    “Pulangnya seberapa sering, mbak?” tanyaku lagi.
    “Tidak setiap bulan, mas.”
    “Lho, katanya kangen. Koq tidak setiap bulan?” tanyaku.
    “Mas ini nggak ngerti nasib orang kecil.” Sanggahnya.
    “Maksudnya bagaimana, mbak? Saya benar-benar nggak ngerti koq.” Ungkapku.
    “Penghasilan tukang jamu, ndak besar, mas. Dari pada saya pulang setiap bulan, mendingan uangnya saja yang dikirim ke kampung.” Begitu penjelasannya.
    “Oh, begitu… saya mengerti, mbak.” Sahutku. Dan iapun tersenyum.
    “Uangnya dikirim pake wesel atau ditrasfer lewat bank?” tanyaku lagi.
    “Hihihi… si mas ini, saya ndak punya bank, mas!” maksudnya pasti tidak punya account di bank.
    “Berarti pakai wesel ya, mbak?”
    “Ndak! Kan setiap bulan ada teman-teman sekampung yang suka bawa truk juga. Atau ada juga teman-teman jamu yang mau pulang. pokoknya siapa saja. Nah, uang itu saya titipkan.”
    “Yakin uang itu bakal sampai ke rumah di kampung?” justru aku yang tak yakin.
    “Yakin, mas. Lha wong dari dulu, kita ini sering begitu. Orang-orang sekampung itu saling percaya, mas. Ndak seperti orang kota.” Jawabnya penuh keyakinan.
    “Cara nge-ceknya gimana, kalau uang itu yakin sampai?” selidikku.
    “Ndak usah di cek, mas! Pokoknya kalau sesama orang sekampung, pasti percaya!” ia tetap bertahan pada keyakinannya.
    “Hebat! Bisa saling percaya seperti itu.” Pujiku.
    “Yach, yang namanya orang kampung, sederhana saja, mas. Kalau yang namanya titipan, pasti sampai. Karena kalau tidak sampai, ndak bakalan dipercaya lagi. Malu dengan orang sekampung.”
    Kehidupan yang keras buat mbak Wanti yang lemah lembut. Ia mengorbankan tenaga, waktu, dan pikirannya untuk menghidupi anaknya. Tidak jarang ia dikira mau-mau saja melayani lelaki hidung belang. Bagi mbak Wanti, resiko pekerjaannya memang seperti itu, dikira perempuan gampangan. Memang ada beberapa teman seprofesinya yang tak bisa menolak bujuk paksa lelaki iseng. Tapi tidak baginya. Ia selalu kuat untuk menghindari segala hal yang bisa merusak nilai perjuangan hidupnya.
    Setiap pekerjaan memang memiliki resiko. Begitupun dengan pekerjaan kita, dimana saja kita bekerja, selalu saja ada godaan untuk melakukan hal-hal yang asusila. Kita bisa belajar dari keteguhan hati seorang penjual jamu, untuk tetap berjuang bagi mereka yang dicintainya di rumah.[MT]

    Parno : Pelarian Untuk Kembali Pulang

    “Nggak enak, kalau sampai orang tua tahu, kami hidup seperti ini.
    Apalagi kalau mertuaku tahu anaknya melarat bersamaku”

    - Parno, Pengamen, Labuan -


    Banyak orang yang merasa bangga jika bertemu dengan orang-orang terkenal. Baik dari kalangan artis, politikus, apalagi birokrat. Seakan-akan pertemuannya itu dapat mengubah nasibnya. Seakan-akan orang terkenal itu bagai dewa yang selalu disanjung kata.
    Jarang sekali, kita merasa bangga ketika bertemu dengan seorang gelandangan yang survive dengan memulung sampah, seorang ibu tua renta penjual pecel yang keliling dari kampung ke kampung demi menghidupi anak cucunya, seorang petani miskin yang tetap bertenaga walau kekurangan stock beras di dapurnya, termasuk bertemu sepasang pengamen karaoke keliling yang mencari nafkah untuk memenuhi kehidupannya.
    “Sudah lama menikah?” Tanyaku kepada suaminya.
    “Setahun lebih.” Jawabnya
    “Sudah lama mengamen bersama?”
    “Kira-kira 4 bulan, terpaksa, mas. Habis kena PHK. Cari kerja lagi susah. Ijasah SMP sudah tak laku. Jadinya begini, deh.” Ternyata sebelumnya ia tinggal di Tangerang sebagai buruh pabrik.
    “Kenapa berdua? Bukannya lebih enak kalau si mbak, menunggu saja di rumah?” saranku.
    “Ehm….” Mereka tersenyum “Menunggu dimana, mas? Lha wong kita sudah nggak sanggup bayar kontrakan. Jadi sekarang, kita tinggal dimana saja. Yang penting tetap bersama-sama.” Ia mencurahkan kisahnya, tapi tanpa ekspresi sedih. Ia tersenyum ketika bercerita.
    Bathinku tersayat mendengar penjelasannya barusan. Walaupun nasib mereka begitu tragis, tapi mereka tetap bisa bercerita dengan senyuman. Itu yang membuatku semakin kecil dibandingkan mereka. Jarang sekali kita membanggakan kaum lemah yang sebenarnya punya daya hidup yang sangat hebat dan patut diambil hikmahnya.
    “Memang mas dan mbak, aslinya dari mana?”
    “Cirebon!” Jawab sang suami. Sang istri lebih sering menundukkan kepala. Mungkin ia malu melihatku banyak ingin tahu.
    “Keluarga di kampung semua?”
    “Ada juga yang di Jakarta… eh… Bekasi deh?” ia meralat ucapannya lalu tertawa.
    “Mereka tahu kalau kalian hidup seperti ini?”
    “Nggak!”
    “Andai mereka tahu, bagaimana?” desakku
    “Mudah-mudahan nggak ada yang tahu. Nggak enak, kalau sampai orang tua tahu, kami hidup seperti ini. Apalagi kalau mertuaku tahu anaknya melarat bersamaku.”
    “Memang mba merasa melarat menjadi istri mas Parno?” aku mencoba menyapa istrinya yang pemalu. Ia menjawabnya dengan menggelengkan kepala. Entah, apakah pertanda ia tidak merasa melarat, atau pertanda ia tak mau menjawab pertanyaanku.
    “Tapi, bisa saja keluarga ada yang tahu, mas. Kan kadang-kadang kita suka ketemu sama teman sekampung?”
    “Mudah-mudahan nggak, lah. Nanti saja kalau saya sudah tidak seperti ini, baru ketemu…” harapannya.
    “Jadi nggak selamanya akan mengamen begini, ya mas?”
    “Nggak lah! Kasihan dia” ia mengelus rambut istrinya yang semakin merunduk malu.
    “Kapan rencana mas akan mengakhiri karier seperti ini?” ia tertawa mendengar pertanyaanku barusan. Ia tak sepakat kalau aku menyebut ini sebagai karier. Ia lebih suka dianggap sebagai pelarian sementara.
    “Pokoknya, sebelum lebaran nanti, saya sudah tak mau begini lagi. Kan kami harus pulang kampung.” Ia menjelaskan pula bahwa yang dilakukan ini hanyalah usahanya untuk mengumpulkan ongkos dan sedikit oleh-oleh buat keluarga di kampung.
    “Setelah itu mau kembali lagi ke Jakarta?”
    “Kayaknya nggak deh, mas. Kita sudah sepakat, mau tinggal di kampung saja. Saya bisa jadi kuli atau apa saja lah. Yang penting istri bisa senang.” Jawaban seorang suami yang jantan menurutku.
    “Apa terkejar buat ongkos dan oleh-oleh?” tanyaku.
    “Dijalani saja mas. Saya nggak bisa ngira-ngira. Pokoknya kita harus pulang!” tekadnya kuat.
    Ternyata mengamen bukanlah pekerjaan mas Parno. Hanya pelarian agar bisa mengumpulkan uang untuk kembali pulang. Hal ini ia lakukan agar keluarga di kampung tidak merasakan kemelaratannya. Bagi orang lain bisa jadi, mas Parno dianggap sedang menipu keluarganya. Tapi kalau kita mau meresapi niat baiknya, insya Allah kita akan menilai mas Parno sebagai seorang suami yang tetap mempertanggungjawabkan cintanya kepada sang istri. Sebagai anak, ia adalah anak yang tak mau orang tuanya merana jika mengetahui nasib anaknya yang nelangsa. (MT)

    Flo : Mencari Keramahan

    “to go with life flow, good agreement with life”
    - Florence Thiriez, Animal lover, Medan -


    Ketika pertama kali datang ke Kantor Fauna & Flora International, Medan, perempuan yang punya nickname ‘tete-rouge’ atau si “Rambut Merah” ini dengan percaya diri menyatakan, “I can teach the guys in the forest, besides a doctor, I’m also an English teacher,” dengan bahasa Inggris berdialek Perancis. Itulah Florence Thiriez. Seorang dokter asal Perancis yang mengabdikan dirinya untuk kegitan-kegitan peduli lingkungan, terutama perlindungan fauna.
    “Kenapa Anda tertarik untuk bergabung dalam kegiatan konservasi di sini, Flo?” Flo adalah panggilan sehari-harinya.
    “Karena saya sangat suka dengan alam yang asri, saya menyukai hutan dan kampung-kampung yang tenang. Makanya saya memilih tinggal di Tangkahan atau Bukitlawang yang dekat dengan hutan Leuser, jika berkunjung. Saya berharap bisa menyumbangkan ilmu saya tentang pengobatan herbal untuk kasus darurat bagi teman-teman yang bekerja di hutan, misal digigit ular, perawatan hewan (animal care), dan animal communication yang baru saja saya pelajari tahun lalu. Dan di Indonesia adalah tempat yang tepat buat saya. Karena di sini banyak teman-teman seide dan sejalan yang peduli dengan pelestarian lingkungan, khususnya hewan.” Jawab Flo ramah.
    “Boleh tahu, apa profesi Anda di negara Anda sendiri?” tanyaku tentang latar belakang profesinya di Paris, Perancis.
    “Saya adalah dokter spesialis kandungan di sebuah rumah sakit di Paris. Tapi sebelumnya, lebih 20 tahun saya bekerja sebagai dokter ahli natural medicine.”
    “Kenapa Anda tidak konsentrasi saja pada profesi kedokteran modern? Kenapa mau-maunya Anda mengurusi hewan di sini?” aku penasaran.
    “Di Paris ini bukan hal yang aneh. Seorang dokter memang dituntut memiliki beberapa kemampuan spesial lainnya, sub-specialist, agar memiliki ilmu yang komprehensif tentang kesehatan.”
    “Lalu Anda memilih mengurusi hewan, bukan manusia?” tanyaku makin dalam.
    “Oh tidak. Saat inipun saya tetap menangani manusia. Namun saya lebih cenderung menangani penyakit yang diderita manusia dengan pengobatan alami. Sebisa mungkin mengurangi konsumsi obat-obatan kimia. Karena sudah jelas, kimia itu memberikan efek negatif bagi tubuh kita.” Wajar ia menjawab seperti ini, karena memang ia juga seorang dokter ahli natural medicine.
    “Bagaimana cara anda melakukan terapi natural terhadap pasien?”
    “Bisa dengan tanah liat, buah, sayuran, urine, bisa juga dengan puasa. Nah di kalangan teman-teman di sini, saya sedang mengajarkan penanganan emergency terhadap gigitan ular. Karena teman-teman adalah orang yang lebih sering aktif di hutan daripada di kota.” Jawabnya diiringi senyumnya yang ramah.
    “Penyakit apa saja yang bisa anda tangani?” pertanyaan spontan.
    “Penyakit apapun, saya berusaha membantu mengobatinya. Hanya satu penyakit yang saya tak bisa menanganinya.”
    “Wah, penyakit apa itu?” tanyaku penasaran
    Prejudice! Hahaha….” ia menjawab sambil tertawa. Akupun tertular tawa, begitupun dengan teman-teman lain yang ada di ruangan ini.
    “Lalu apa obat buat prejudice itu?” tanyaku
    “Hahaha, kan saya tidak menangani itu” masih sambil tertawa kecil, “Tetapi, mungkin dengan terapi spiritual, penyakit itu bisa disembuhkan…” Flo terlahir sebagai Khatolik. Tapi saat ini ia sedang tertarik untuk menerapkan filosofi Budha. Islam belum mengena di hatinya, karena melihat beberapa golongan muslim yang agresif. Ia kurang menyukai agresifitas dalam beragama.
    “Selama anda di sini, berarti pekerjaan anda di Paris anda tinggalkan lalu bagaimana dengan pihak Rumah Sakit?” aku baru ingat kalau dia pernah menyatakan, praktik di sebuah Rumah Sakit di Paris.
    “Saya tak selamanya di sini. Karena hanya cuti kerja selama satu tahun.” Jelasnya.
    “Setahun? Lalu bagaimana Anda membiayai hidup selama di sini?” ini yang sejak awal aku pikirkan, dari mana ia mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di Indonesia. Karena yang aku tahu, ia tidak menerima gaji dari Fauna & Flora International - Sumatran Elephant Conservation Programme (FFI-SECP), atau siapapun yang dibantunya.
    “Saya punya cukup tabungan untuk keliling dunia kalau lagi cuti. Ini hal yang umum dilakukan oleh orang-orang di Eropa.” Jawabnya santai.
    “Bagaimana dengan anak-anak yang anda tinggalkan?” Kutanyakan demikian karena ia pernah bilang punya anak, namun suaminya sudah meninggal 4 tahun yang lalu.
    “Anak-anakku sudah dewasa dan mandiri. Jadi saya tak harus mengkhawatirkannya.” Ia selalu tersenyum jika berbicara.
    “Atau mungkin justru ia yang mengkhawatirkan Anda di negeri orang…hehehe..” candaku.
    “Ah, tidak. Dia paham kalau mamanya seorang pemberani, hehehe…” balasnya.
    “Apa prinsip hidup anda, dan apa yang anda cari dalam hidup ini?” sebuah pertanyaan terakhir yang kusampaikan, karena menyadari sudah waktunya ia kembali ke penginapannya.
    “Hm… mengalir saja… to go with life flow, good agreement with life… dan yang saya cari adalah keramahan….saat ini dan kedepan, saya akan fokus ke masalah spiritual, itu mimpi saya” jawabnya tersenyum. Setelah itu ia beranjak dari duduknya, kembali ke penginapannya di Bukit Lawang. Seekor monyet berekor panjang mengikutinya, seperti teman seperjalanan.
    Itulah Florence Thiriez. Ia mengabdikan ilmunya untuk membantu para relawan yang bertemu dengannya dalam perjalanan keliling dunia, saat ini di Thailand dan Indonesia, khususnya Medan. Tidak ada yang dia cari selain keramahan. Karena keramahan hanya bisa tercipta oleh mereka yang berpikiran jernih, bebas dari prasangka buruk, dan mau berbagi dengan sesama makhluk Tuhan. [MT]
     

    2009 ·guru kehidupan by TNB