Cari

Abdul Hamid

Abdul Hamid
veteran dari kroya

Ponaryo

Ponaryo
tukang becak

Anak Jalanan

Anak Jalanan
Pengiba Rupiah

Wanti

Wanti
tukang jamu gendong
Tampilkan postingan dengan label mt. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mt. Tampilkan semua postingan

Abdul Hamid : Pesan Sang Veteran

Minggu, 27 Desember 2009

Sekali tidak jujur, hidup tidak akan benar! Pasti dapat masalah terus!
Abdul Hamid Surya, Veteran, Stasiun Kota –


Sejak pertamakali melihatnya di Peron Stasiun Kereta Api Jakarta Kota, aku sudah tertarik padanya. Dandanannya rapih. Ia mengenakan kemeja batik warna coklat. Kacamata hitam membuatnya lebih menarik perhatian. Dan yang paling menarik bagiku sebuah pin yang menempel di pecinya yang lapuk. Itu adalah sebuah pin yang hanya dimiliki oleh orang yang mendapatkan penghargaan atas jasanya, sebagai veteran.
Veteran adalah julukan yang diberikan pemerintah kepada mereka yang telah menyumbangkan tenaganya secara aktif atas dasar sukarela dalam ikatan kesatuan bersenjata (resmi maupun kelaskaran) dalam memperjuangkan, membela dan mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Merekalah yang berjibaku langsung di front rakyat untuk menghalau penjajah dari negeri ini.
Nama lengkapnya Abdul Hamid Surya. Kesempatan bicara dengannya kudapatkan ketika ia sibuk mencari-cari korek api untuk menyulut rokok kreteknya. Kuberikan padanya sebuah korek api gas. Iapun tersenyum dan berucap terima kasih. Di bangku peron, kami berbincang berdua.
“Mau kemana, pak?” tanyaku setelah memotretnya.
“Kroya!” jawabnya tegas. Mulutnya kembali menghisap rokok kretek merk lama yang masih eksis sampai saat ini.
“Sendiri saja, tidak ada yang mengantar, pak?”
“Memang kenapa? Dari dulu saya sering jalan sendiri.” Setiap bicara, ia selalu memperhatikan lawan bicaranya. Menatapku, hingga aku agak canggung karena ia berkacamata hitam. Aku sulit melihat tatapan matanya.
“Tidak apa-apa sih, cuma khawatir saja, perjalanan ke Kroya lumayan jauh.” Alasan spontanku.
“Ah, dari dulu bapak nggak pernah takut! Siapa yang berani macam-macam, saya lawan!” jawabnya tegas. Asap rokok dari mulutnya terbuang cepat.
“Waktu bapak berperang dulu, adakah sedikit rasa takut?” tanyaku mengharapkan ia bercerita.
“Rasa takut itu pasti ada. Tapi karena dulu, yang ada di pikiran semua bangsa adalah perang, maka hati kitapun terpacu untuk berani melawan penjajah” Jawabannya tegas.
“Apakah saat itu bapak sudah menikah?”
“Belum!”
“Sekarang banyak anak muda yang takut mati sebelum menikah. Bagaimana saat bapak muda dulu?”
“Hohoho… nikah? Itu belum terpikir, dik!” ia memanggilku adik, “Kalaupun ada teman-teman saya yang sudah punya pacar, tapi mereka siap mati demi membela bangsa!”
“Akhirnya mereka gugur, pak?”
“Tidak semua.”
“Apa yang bapak rasakan selama hidup sejak zaman perang, zaman Sukarno, Suharto, Habibie, Gusdur, Mega, hingga SBY kini?”
“Hanya satu hal : kejujuran semakin ditinggalkan!” katanya sambil menghisap rokok kreteknya yang tinggal setengah. “Dulu, waktu kami berperang. Kami paling anti untuk mengambil harta yang tersisa dari bangkai penjajah yang kami bunuh. Walaupun ada saja orang-orang yang tetap mencuri dompet, gelang, jam, atau apapun yang melekat pada tubuh bangkai yang tak berdaya itu. Kami berjuang dengan jujur, kami hanya mencari kemerdekaan, bukan harta!”
“Padahal, mereka itu kan penjajah, pak. Bukankah wajar kalau hartanya diambil buat orang yang membunuhnya?” selaku.
“Menurut kamu begitu, tapi sebagai pejuang sejati, yang kami cari bukan itu. Kami pantang mencuri sepeserpun dari bangkai panjajah!”
“Dosa, ya pak?” aku menegaskan.
“Bukan! Bukan hanya dosa! Tapi perjuangan kami jadi sia-sia!” tak kusangka penegasanku salah.
“Walaupun hanya jam tangan saja, pak?”
“Sekali tidak jujur, hidup tidak akan benar! Pasti dapat masalah terus!” tegasnya.
“Kini bagaimana pak?” tanyaku singkat.
“Seperti yang saya bilang tadi, KEJUJURAN para pengayom negeri makin tipis. Mungkin yang memimpin sekarang adalah mereka yang ketika perang, mencuri harta dari bangkai penjajah itu….” hm… sederhana namun mendalam sekali jawaban pak Hamid. “Makin hari, para pengayom negeri ini semakin kebablasan dalam memperjuangkan kemerdekaan! Bangsa kita makin banyak masalah! Saya yakin, ini pasti ada yang tidak jujur!”
“Lho, memang sekarang masih berjuang demi kemerdekaan, pak?” tanyaku
“Selamanya kita berjuang mencari kemerdekaan, terutama dari penjajahan nafsu terhadap hati kita! Itu yang semakin hari semakin kami lihat, para pengayom negeri ini belum merdeka! Itu perjuangan yang saat ini harus kita perjuangkan!”
“Berarti kejujuran itu begitu penting dalam perjuangan ya, pak?”
“Kejujuran itu tak ada habisnya! Dari dulu sampai mati, kita harus berani jujur!” nasehatnya padaku.
Ia kembali menyulut sebatang rokok. Aku kembali menyalakan korek api dan menyulutinya. Hisapan pertama begitu dalam. Asapnya diseolah-olah ditelan, lalu dihembuskan melalui lubang hidungnya. Ia masih belum berhenti bercerita. Perjuangan melawan penjajah adalah kisah yang paling semangat ia ceritakan. Hampir semua orang yang juga duduk di peron stasiun ini, memperhatikan perbincangan kami. Lebih tepatnya, memperhatikan pak Hamid, yang kini sudah berusia 86 tahun. Yang sedang menunggu kereta menuju rumahnya, di Kroya.
“Apa yang bapak inginkan sebelum dipanggil Tuhan?” sebenarnya aku enggan menanyakan hal ini, khawatir ia tersinggung karena aku menanyakan tentang kematian.
“Apa? Nggak ingin apa-apa. Mati ya mati! Lha orang mau mati koq mikirin macam-macam!”
“Maaf pak, maksud saya, kalau Bapak meninggal, apakah ingin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, seperti para pejuang atau tentara yang lainnya?”
“Ah dimana saja, terserah Tuhan mematikan saya dimana, di situlah saya dikubur. Karena kami pejuang, dimanapun kami siap mati!”
Banyak tutur kata yang patut kita renungkan dari pak Hamid. Ia menjadikan kejujuran sebagai prinsip perjuangannya. Meskipun banyak peluang untuk mencuri harta hasil perjuangan, tapi ia tak mau melakukannya. Dan baginya kejujuran hanya bisa dilakukan oleh orang yang jiwanya merdeka.
Sebagai pejuang tua, ia tak khawatir mati di mana saja. Iapun tak punya keinginan untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, yang merupakan prestise bagi keluarga para pejuang. Di manapun ia mati, di situlah ia minta dikuburkan. [MT]

Mudrik : Orang Gila

“Sudah! Diam saja, biarkan saja mereka ngomong! Jangan didengarkan!”
- Mudrik, Orang Gila, Ciparay-Anyer -


Keduanya duduk di bale depan warung nasi Suka Rasa di Ciparay, Anyer. Yang lelaki bertopi haji. Rambutnya panjang melewati bahu. Banyak tanah dan debu yang melekat di beberapa helai rambut itu. Tangannya asyik melinting rokok. Namanya pak Mudrik. Orang-orang di sekitar warung yang kutanya bilang, “Orang gila!”
Ia didampingi seorang perempuan. Rambutnya gimbal. Tanah dan kotoran berupa serpihan daun menjadi perekat dan penghias rambut kusam dan awut-awutan. Tatkala ia tersenyum, aku sempat melihat giginya yang hitam-hitam. Orang-orang yang kutanya bilang, “Itu istrinya, gila juga!”
Pak Mudrik mendapat predikat gila dari masyarakat setelah diketahui gagal bunuh diri. Mulanya ia kecewa kepada orang tuanya karena tak juga membelikannya sepeda motor. Saat itu ia sudah menikah dengan istrinya yang pertama. Kekecewaan itu ditambah dengan tekanan batin atas sikap istri dan keluarganya, pak Mudrik lantas nekad gantung diri. Tapi Allah tak berkenan atas kematiannya. Ia hanya mengerang merasakan sakit pada lehernya yang terjerat. Sejak itulah ia dianggap gila.
Pak Mudrik sering jalan kaki sepanjang jalan. Dari Anyer sampai Padarincang, kira-kira 30 kilometer lebih, merupakan jalurnya. Beberapa kali ia hidup bersama dengan perempuan yang juga gila. Dengan perempuan Jawa, ia pernah mempunyai anak. Lahirnya di sebuah kios Pasar Cinangka. Perempuan Jawa itu meninggal karena tabrak lari. Beruntung ada orang Jakarta yang mengambil anak tersebut dan mengadopsinya. Sedangkan pak Mudrik, kembali pada dunianya sendiri. Bertemu perempuan gila lagi, kawin lagi, ganti lagi, hingga beberapa bulan ini selalu bersama dengan perempuan Sunda berbaju hijau.
“Ngomongin saya, ya?!” istrinya menghampiriku, marah dalam bahasa sunda. Aku heran, ia mengetahui isi perbincanganku dengan orang-orang di warung nasi ini.
“Memangnya saya tidak tahu kalau kamu ngomongin saya!” Bentaknya! Masih dalam bahasa sunda yang tak aku mengerti. Aku baru paham setelah diberitahu artinya oleh pemilik warung yang rutin memberi Mudrik makanan.
“Sudah! Diam saja, biarkan saja mereka ngomong! Jangan didengarkan!” Sang Suami, yang bernama Mudrik itu memanggil istrinya agar tidak lagi memarahi kami. Juga dalam bahasa Sunda. Sang istripun menurut dan mereka berdua kembali duduk di depan warung nasi, memandang ke arah pantai.
Aku bergegas dari warung nasi, melanjutkan perjalanan. Sebelum memasuki mobil, aku menghampirinya sebentar, menganggukkan kepalaku di depannya, bermaksud mohon maaf atas ketersinggungannya.
Begitulah, kehidupan pak Mudrik, orang gila yang kutemui di Ciparay. Mengapa aku mengangkat topik orang gila? Karena biasanya kita memang tak pernah mau mencoba peduli dengan mereka yang kita anggap gila. Kita terlalu menjaga jarak dengan mereka yang gila. Salah satu yang membuat orang menjadi gila adalah karena kurangnya perhatian. Jika kitapun tak sudi memberi perhatian saat mereka gila. Maka merekapun makin merasa kesepian di tengah kehidupan yang amat ramai.
Kitapun pasti berpikir agar sebaiknya orang-orang gila itu direhabilitasi di Rumah Sakit Jiwa. Pemerintah mestinya memberikan perhatian buat mereka. Bukannya membiarkan mereka berkeliaran di jalan. Ada yang bilang, RS Jiwa sudah tak muat lagi buat orang gila. Makanya mereka dibiarkan punah secara alamiah. Tragis sekali jika anggapan tersebut sebuah kebenaran. Kita tak pernah mengetahui berapa anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk orang-orang seperti Mudrik. Adakah?
Pak Mudrik memang gila. Tapi selama gila, dia tak pernah mengganggu orang lain yang waras. Justru yang sering terjadi sebaliknya, orang-orang waras yang mengusir apabila Mudrik duduk istirahat di pinggir jalan atau di depan rumahnya.
Kita sering tidak peduli terhadap orang lain, apalagi jika orang lain itu kita anggap gila. Jangankan untuk membiarkannya diam di depan rumah kita, untuk memberi sepiring makanan saja, sepertinya kita merasa jijik. Padahal, bisa jadi Tuhan mengirim orang gila di depan rumah kita, untuk menguji sebesar apa hati kita untuk tidak menganggapnya kecil dibanding kita, untuk menguji apakah kita masih merasa paling mulia dibanding manusia lain. [MT]

Wanti : Tantangan Penyedia Jamu Gendong

“Dari pada saya pulang setiap bulan, mendingan uangnya saja yang dikirim ke kampung.”

- Wanti, Penjaja Jamu, Merak Banten -



Hampir satu jam aku di Ferry yang akan menyebrangkanku dari Merak ke Bakauheni. Urat-urat badanku terasa ngilu. Mungkin karena sejak awal aku asyik menikmati lautan selat Sunda ini dari Dek. Sementara angin senja begitu besar. Tiba-tiba aku teringat, sepertinya beberapa menit lalu ada seorang tukang jamu yang melintasiku. Kemanakah gerangan dia?
Aku mencarinya ke arah parkiran truk. Biasanya tukang jamu paling berharap dengan rezeki supir truk. Mereka malah menjadi seperti langganan tetap. Benar saja. Aku menemukannya sedang memberikan segelas jamu kepada salah seorang supir truk. Akupun memesan jamu anti masuk angin, dicampur telur bebek, cairan brotowali yang amat pahit dan sedikit pemanis.
“Ndak sekalian pake urat madu, mas?” tanyanya dengan gaya bicara Jawa yang lemah lembut.
“Urat madu? apa itu?” aku benar-benar tak mengerti. Dalam kepalaku ketika mendengarnya adalah urat dari cairan madu. Tapi benakku sendiri menolak, masak sih madu ada uratnya…
“Ini lho, kapsul urat madu. Bisa bikin kuat dan tahan lama.”
“Bisa buat charger hape, dong!” candaku.
“Bukan buat hape, tapi buat begini, lho!” ia mengepalkan tangannya. Ibu jarinya dijepit antara jari telunjuk dan jari tengah. Lalu ia menjelaskan tentang khasiat kapsul tersebut sekali lagi, mulai dari A sampai Z. mulai dari urusan ereksi sampai durasi. “Murah, mas. Cuma 25 ribu perbungkus. Isinya 2 kapsul.” Begitu akhir penjelasannya.
“Memang kapsul seperti itu banyak peminatnya?” tanyaku kepada mbak Wanti yang menyimpan kembali sebungkus kapsul urat madu karena mengerti kalau aku tak berminat.
“Banyak juga. Biasanya supir yang suka pesan.”
“Untuk mereka pakai dimana? Di kapal ini?”
“Ada yang di sini, ada juga yang di luar. Namanya juga supir, suka mampir.” Mbak Wanti mesem-mesem. Walaupun aku tak percaya sepenuhnya. Karena temanku juga supir, dan ia adalah suami yang setia kepada istrinya.
“Suka digodain nggak, mbak?”
“Ya sering”
“Dilayani nggak?”
“Kadang dilayani, ya kadang ndak. Lha namanya juga orang jualan.” Ia menceritakan pula pengalaman teman-teman seprofesinya yang kadang tak bisa menolak ketika dipaksa kencan oleh lelaki yang birahinya sudah diujung kepala. Tapi baginya, kalau hanya sekedar bercengkrama saja, tak masalah.
“Sudah berkeluarga, mbak?” kupotong ceritanya karena kurang tertarik untuk membahasnya.
“Suami saya di Jawa jadi petani. Anak saya baru 1, baru masuk SMP.” Lalu mbak Wanti berkisah tentang kehidupannya dengan suami dan anaknya ketika ia masih di Solo.
“Tiap bulan pulang, mbak?”
“Si mas ini… bikin saya jadi kepingin pulang kampung saja.” Merenung. Entah merenungi nasib keluarganya atau nasibnya di atas kapal penyebrangan ini.
“Pulangnya seberapa sering, mbak?” tanyaku lagi.
“Tidak setiap bulan, mas.”
“Lho, katanya kangen. Koq tidak setiap bulan?” tanyaku.
“Mas ini nggak ngerti nasib orang kecil.” Sanggahnya.
“Maksudnya bagaimana, mbak? Saya benar-benar nggak ngerti koq.” Ungkapku.
“Penghasilan tukang jamu, ndak besar, mas. Dari pada saya pulang setiap bulan, mendingan uangnya saja yang dikirim ke kampung.” Begitu penjelasannya.
“Oh, begitu… saya mengerti, mbak.” Sahutku. Dan iapun tersenyum.
“Uangnya dikirim pake wesel atau ditrasfer lewat bank?” tanyaku lagi.
“Hihihi… si mas ini, saya ndak punya bank, mas!” maksudnya pasti tidak punya account di bank.
“Berarti pakai wesel ya, mbak?”
“Ndak! Kan setiap bulan ada teman-teman sekampung yang suka bawa truk juga. Atau ada juga teman-teman jamu yang mau pulang. pokoknya siapa saja. Nah, uang itu saya titipkan.”
“Yakin uang itu bakal sampai ke rumah di kampung?” justru aku yang tak yakin.
“Yakin, mas. Lha wong dari dulu, kita ini sering begitu. Orang-orang sekampung itu saling percaya, mas. Ndak seperti orang kota.” Jawabnya penuh keyakinan.
“Cara nge-ceknya gimana, kalau uang itu yakin sampai?” selidikku.
“Ndak usah di cek, mas! Pokoknya kalau sesama orang sekampung, pasti percaya!” ia tetap bertahan pada keyakinannya.
“Hebat! Bisa saling percaya seperti itu.” Pujiku.
“Yach, yang namanya orang kampung, sederhana saja, mas. Kalau yang namanya titipan, pasti sampai. Karena kalau tidak sampai, ndak bakalan dipercaya lagi. Malu dengan orang sekampung.”
Kehidupan yang keras buat mbak Wanti yang lemah lembut. Ia mengorbankan tenaga, waktu, dan pikirannya untuk menghidupi anaknya. Tidak jarang ia dikira mau-mau saja melayani lelaki hidung belang. Bagi mbak Wanti, resiko pekerjaannya memang seperti itu, dikira perempuan gampangan. Memang ada beberapa teman seprofesinya yang tak bisa menolak bujuk paksa lelaki iseng. Tapi tidak baginya. Ia selalu kuat untuk menghindari segala hal yang bisa merusak nilai perjuangan hidupnya.
Setiap pekerjaan memang memiliki resiko. Begitupun dengan pekerjaan kita, dimana saja kita bekerja, selalu saja ada godaan untuk melakukan hal-hal yang asusila. Kita bisa belajar dari keteguhan hati seorang penjual jamu, untuk tetap berjuang bagi mereka yang dicintainya di rumah.[MT]

Parno : Pelarian Untuk Kembali Pulang

“Nggak enak, kalau sampai orang tua tahu, kami hidup seperti ini.
Apalagi kalau mertuaku tahu anaknya melarat bersamaku”

- Parno, Pengamen, Labuan -


Banyak orang yang merasa bangga jika bertemu dengan orang-orang terkenal. Baik dari kalangan artis, politikus, apalagi birokrat. Seakan-akan pertemuannya itu dapat mengubah nasibnya. Seakan-akan orang terkenal itu bagai dewa yang selalu disanjung kata.
Jarang sekali, kita merasa bangga ketika bertemu dengan seorang gelandangan yang survive dengan memulung sampah, seorang ibu tua renta penjual pecel yang keliling dari kampung ke kampung demi menghidupi anak cucunya, seorang petani miskin yang tetap bertenaga walau kekurangan stock beras di dapurnya, termasuk bertemu sepasang pengamen karaoke keliling yang mencari nafkah untuk memenuhi kehidupannya.
“Sudah lama menikah?” Tanyaku kepada suaminya.
“Setahun lebih.” Jawabnya
“Sudah lama mengamen bersama?”
“Kira-kira 4 bulan, terpaksa, mas. Habis kena PHK. Cari kerja lagi susah. Ijasah SMP sudah tak laku. Jadinya begini, deh.” Ternyata sebelumnya ia tinggal di Tangerang sebagai buruh pabrik.
“Kenapa berdua? Bukannya lebih enak kalau si mbak, menunggu saja di rumah?” saranku.
“Ehm….” Mereka tersenyum “Menunggu dimana, mas? Lha wong kita sudah nggak sanggup bayar kontrakan. Jadi sekarang, kita tinggal dimana saja. Yang penting tetap bersama-sama.” Ia mencurahkan kisahnya, tapi tanpa ekspresi sedih. Ia tersenyum ketika bercerita.
Bathinku tersayat mendengar penjelasannya barusan. Walaupun nasib mereka begitu tragis, tapi mereka tetap bisa bercerita dengan senyuman. Itu yang membuatku semakin kecil dibandingkan mereka. Jarang sekali kita membanggakan kaum lemah yang sebenarnya punya daya hidup yang sangat hebat dan patut diambil hikmahnya.
“Memang mas dan mbak, aslinya dari mana?”
“Cirebon!” Jawab sang suami. Sang istri lebih sering menundukkan kepala. Mungkin ia malu melihatku banyak ingin tahu.
“Keluarga di kampung semua?”
“Ada juga yang di Jakarta… eh… Bekasi deh?” ia meralat ucapannya lalu tertawa.
“Mereka tahu kalau kalian hidup seperti ini?”
“Nggak!”
“Andai mereka tahu, bagaimana?” desakku
“Mudah-mudahan nggak ada yang tahu. Nggak enak, kalau sampai orang tua tahu, kami hidup seperti ini. Apalagi kalau mertuaku tahu anaknya melarat bersamaku.”
“Memang mba merasa melarat menjadi istri mas Parno?” aku mencoba menyapa istrinya yang pemalu. Ia menjawabnya dengan menggelengkan kepala. Entah, apakah pertanda ia tidak merasa melarat, atau pertanda ia tak mau menjawab pertanyaanku.
“Tapi, bisa saja keluarga ada yang tahu, mas. Kan kadang-kadang kita suka ketemu sama teman sekampung?”
“Mudah-mudahan nggak, lah. Nanti saja kalau saya sudah tidak seperti ini, baru ketemu…” harapannya.
“Jadi nggak selamanya akan mengamen begini, ya mas?”
“Nggak lah! Kasihan dia” ia mengelus rambut istrinya yang semakin merunduk malu.
“Kapan rencana mas akan mengakhiri karier seperti ini?” ia tertawa mendengar pertanyaanku barusan. Ia tak sepakat kalau aku menyebut ini sebagai karier. Ia lebih suka dianggap sebagai pelarian sementara.
“Pokoknya, sebelum lebaran nanti, saya sudah tak mau begini lagi. Kan kami harus pulang kampung.” Ia menjelaskan pula bahwa yang dilakukan ini hanyalah usahanya untuk mengumpulkan ongkos dan sedikit oleh-oleh buat keluarga di kampung.
“Setelah itu mau kembali lagi ke Jakarta?”
“Kayaknya nggak deh, mas. Kita sudah sepakat, mau tinggal di kampung saja. Saya bisa jadi kuli atau apa saja lah. Yang penting istri bisa senang.” Jawaban seorang suami yang jantan menurutku.
“Apa terkejar buat ongkos dan oleh-oleh?” tanyaku.
“Dijalani saja mas. Saya nggak bisa ngira-ngira. Pokoknya kita harus pulang!” tekadnya kuat.
Ternyata mengamen bukanlah pekerjaan mas Parno. Hanya pelarian agar bisa mengumpulkan uang untuk kembali pulang. Hal ini ia lakukan agar keluarga di kampung tidak merasakan kemelaratannya. Bagi orang lain bisa jadi, mas Parno dianggap sedang menipu keluarganya. Tapi kalau kita mau meresapi niat baiknya, insya Allah kita akan menilai mas Parno sebagai seorang suami yang tetap mempertanggungjawabkan cintanya kepada sang istri. Sebagai anak, ia adalah anak yang tak mau orang tuanya merana jika mengetahui nasib anaknya yang nelangsa. (MT)
 

2009 ·guru kehidupan by TNB