Cari

Abdul Hamid

Abdul Hamid
veteran dari kroya

Ponaryo

Ponaryo
tukang becak

Anak Jalanan

Anak Jalanan
Pengiba Rupiah

Wanti

Wanti
tukang jamu gendong

Penyapu Gerbong KRL

Minggu, 31 Januari 2010


Begini saja sebenarnya malu. Tapi gimana lagi, jadi orang kantoran susah...
– Sadikin, Tukang Sapu KRL, Kemayoran –

Badannya masih sehat. Tak ada cacat. Ia mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istrinya dengan bermodalkan sapu uduk yang dipotong tangkainya.
Dari gerbong ke gerbong ia membersihkan lantai kereta. Di kolong bangku biasanya banyak sampah yang diselipkan oleh penumpang KRL. Maklum, membuang sampah pada tempatnya belum menjadi budaya bagi rakyat kita. Lagipula pengelola kereta tak menyediakan tempat sampah di gerbong-gerbong yang setiap hari dipenuhi oleh sampah manusia.
“Koq, nggak ke gerbong sebelah, bang?” tanyaku. Setelah mendapatkan recehan, ia duduk di sebelahku, dekat pintu.
“Udah tiga gerbong. Cukup...” jawabnya.
“Cuma tiga gerbong? Nggak semua gerbong disapu?” tanyaku.
“Bagi-bagi sama yang lain. Kan bukan saya aja yang nyapu.” Bang Sadikin menceritakan tentang rekan seprofesinya, yang kebanyakan anak-anak. Ternyata ada kesepakatan tak tertulis di antara mereka tentang pembagian gerbong pada setiap kereta yang jalan.
“Bagus juga, jadi ada saling pengertian ya?” pujiku.
“Kalo nggak begitu, kasihan anak-anak. Mereka pasti takut sama yang lebih gede.” Jawab bang Sadikin yang tinggal di sekitar Pasar Senen.
“Tidak semua orang memberi upah. Gimana perasaan abang?” tanyaku menelusuri hati.
“Kalo satu gerbong nggak ada yang ngasih sama sekali, sih... kesal juga. Tapi mau diapain lagi, itu mah, nasib! Lagi sial kali!” kuperhatikan tangannya dekil. Debu sudah melekat kuat di jari-jemarinya.
“Pernah saya lihat, teman abang yang masih anak-anak itu memaksa minta uang dari penumpang. Suka begitu juga nggak?”
“Hehehe... malu ah. Kalo anak-anak sih, wajar. Mereka kadang merasa jagoan. Yach... anak-anak...” ia tersenyum membayangkan rekannya yang masih kecil-kecil. Sepertinya ia memang tak pernah memaksa untuk minta uang kepada penonton. Kuperhatikan tadi, ketika ada penumpang yang acuh, ia hanya melewati saja sambil tersenyum dan melanjutkan menyapu.
“Saya salut sama abang. Tidak mau mengemis!” pujiku lagi.
“Wah, nggak berani saya! Begini saja sebenarnya malu. Tapi gimana lagi, jadi orang kantoran susah...” ia tersenyum.
“Sehari bisa dapat berapa, bang?”
“Tergantung rezeki. Kadang bisa 10-20 ribu. Malah pernah Cuma dapat 700 perak, hehehe...”
“Hari ini?”
“Belum tau deh. Biasanya baru dihitung kalo udah mau pulang sih...” Kulihat hasil kerjanya cukup bersih.
“Kadang ada juga yang buang sampah cair, bahkan meludah di gerbong. Tidak jijik?”
“Udah biasa sih, nggak! Kan didebuin dulu, baru bisa diangkat.”
Bang Sadikin benar-benar bekerja di gerbong ini. Kadang kulihat ada juga anak-anak yang sekedar menggoyang-goyangkan sapu, tapi sampah tak terambil. Ada juga yang hanya meminggirkan sampah di pojokan gerbong. Tapi bang Sadikin berbeda. Ia selalu membawa plastik untuk memasukkan sampah di tiap gerbong, untuk dibuang di tempat sampah di stasiun ketika ia turun untung berganti kereta.
Debu, plastik, kertas, kardus, bekas bungkus makanan atau minuman kemasan dibersihkan dari lantai gerbong ini. mungkin hanya satu yang tak bisa ia bersihkan, yaitu prasangka penumpang kereta, yang tidak jarang mencurigai macam-macam. Kadang ia disikapi seolah mau mengemis. Kadang dipandang seolah mau menjambret tas. Begitulah resiko yang dihadapi oleh bang Sadikin.
Kadang kita yang nasibnya agak lebih baik, suka berprasangka buruk kepada mereka yang mengais rezeki di jalan… walaupun mereka adalah sebagian dari guru kita, guru kehidupan. [MT]

0 komentar:

Poskan Komentar

 

2009 ·guru kehidupan by TNB